Berita

Armada Pemadam Kebakaran Minim

Selasa, 01 Desember 2009

    Kabupaten Bandung terdiri atas 31 kecamatan dan 266 desa. Akan tetapi, saat ini kami hanya memiliki 7 mobil pemadam di 3 pos kebakaran, ucap Kepala Tata Usaha Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pemadam Kebakaran (Damkar) Kab. Bandung Hendi Kurniawan, ketika ditemui di Pemkab Bandung, Rabu (25/11).

    Tiga pos tersebut terletak di Kec. Soreang, Ciparay, dan Cicalengka. Sedangkan total personel damkar sebanyak enam puluh orang. Di Soreang ada tiga unit mobil damkar, dan sisanya masing-masing dua unit di Kec. Ciparay dan Cicalengka. Hal itu juga menyebabkan waktu respons selama 15 menit, biasanya mundur ratarata hingga 30 menit.

    Menurut Hendi, hingga saat ini memang belum ada kajian mengenai jumlah ideal pos dan mobil unit pemadam kebakaran di setiap kabupaten dan kota. Tapi kalau dari beberapa referensi, di Jepang misalnya, setiap 10.000 jiwa memiliki satu pos damkar, sedangkan di Malaysia satu pos untuk 30.000 jiwa.

    Kajian tersebut, menurut Hendi, dibutuhkan untuk mengetahui berapa pos dan mobil unit pemadam kebakaran yang seharusnya dimiliki Kab. Bandung. Apalagi karena jumlah kasus kebakaran di Kab. Bandung tergolong tinggi.

    Kasus kebakaran di Kab. Bandung sejak 2002 cenderung meningkat. Pada 2002, tercatat 50 kasus kebakaran, naik menjadi 110 kasus pada 2003, 122 kasus pada 2004, dan 140 kasus kebakaran pada 2005. Jumlah kasus kebakaran tertinggi di Kab. Bandung terjadi pada 2006, yaitu sebanyak 276 kasus. Jumlahnya kemudian menurun pada 2007, yaitu sebanyak 164 kali, dan kemudian meningkat lagi menjadi 204 kasus pada 2008.

    Kendala lain yang menyulitkan petugas damkar, menurut Hendi, adalah jarak antara lokasi terbakar dengan pos pemadam yang cukup jauh, kemacetan lalu lintas, serta kondisi jalan yang rusak dan sempit sehingga sulit dilalui mobil pemadam. Saat ini, fasilitas hidran juga hanya ada di Ciparay dan Soreang. Jadi kalau kami sedang beroperasi dan kehabisan air, terpaksa harus keluar dan mencari sumber air.

    Terlambatnya informasi atau laporan dari masyarakat, biasanya juga membuat petugas damkar tidak bisa segera tiba di lokasi. Apalagi, informasi alamat kebakaran kadang-kadang tidak jelas. Dengan kondisi seperti itu, menurut Hendi, upaya pemberdayaan masyarakat mutlak diperlukan. Jadi kalau ada peristiwa kebakaran di lingkungan sekitarnya, warga bisa siaga menghadapi api dengan cara-cara yang sudah kita latihkan sambil menunggu petugas datang.

 

 

Sumber : Harian Umum Pikiran Rakyat, Selasa 1 Desember 2009

Lainnya