Berita

Nama Desa Kok Membingungkan...

Selasa, 28 Juli 2009

     Bandung sendiri bagi orang Tegal sudah tak asing lagi, sebab di Kec. Bandung Selatan terdapat nama Desa Bandung. Di Kab. Tegal juga terdapat nama Banjaran, sebuah kota kecil dengan pasar dan terminalnya yang ramai layaknya Banjaran di Kab. Bandung.

     Bagi pedagang nasi goreng asal Desa Bojong, Kab. Tegal, Syahidin, Bandung memiliki banyak potensi untuk membingungkan para pendatang. Nama satu jalan bisa mencapai puluhan kilometer panjangnya, misalnya Jln. Kopo mulai dari Astanaanyar sampai Soreang. Belum lagi dengan adanya jalan terusan, misalnya Jln. Terusan Buahbatu untuk daerah Bojongsoang, dan lain-lain.

     Warga pendatang juga dibingungkan dengan nama-nama desa atau kampung yang sama di Kab. Bandung. Sebut saja Desa Jelegong di Kec. Kutawaringin, namun ada pula di Kec. Rancaekek. Nama yang hampir serupa juga ada, yakni Desa Jelekong di Kec. Baleendah. Jadi, kalau mau bepergian harus tanya Jelegong yang mana? Bisa juga Jelegong atau Jelekong biar tak salah.

     Di Kec. Cangkuang juga terdapat nama yang sama, yaitu Kp. Nagrak di Desa Jatisari dan Desa Nagrak. Desa Jatisari sendiri, selain di Kec. Cangkuang, juga terdapat di Kec. Kutawaringin. Nama Nagrak juga hampir serupa dengan Nagrek dan Nagrok di Kec. Nagrek, wilayah timur Kab. Bandung.

     Nama Cangkuang sendiri banyak jumlahnya. Minimal ada Desa/Kec. Cangkuang, namun terdapat pula Desa Cangkuang Wetan dan Desa Cangkuang Kulon di Kec. Dayeuhkolot. Belum lagi nama Cangkuang di sekitar Rancaekek dan Cicalengka.

     Demikian pula dengan nama Kopo yang identik dengan Kec. Margahayu. Namun jangan salah, bisa-bisa Anda tersesat karena Desa Kopo bukan berada di Margahayu melainkan masuk ke wilayah Kec. Kutawaringin. Yang membingungkan juga Kp. Derwati di Sapan, Majalaya, dengan Drawati, di Kec. Paseh.

     Ketika masa reformasi bergulir dan pemekaran desa/kelurahan di Kab. Bandung marak, maka yang muncul adalah nama-nama desa yang diawali dengan kata mekar. Seperti Desa Mekar Laksana, Mekar Jaya, Mekar Mukti, dan lain-lain yang makin membingungkan saja.

      Ketua Komisi A DPRD Kab. Bandung, H. Denni Rukada Sahuri mengatakan, nama-nama yang mirip bahkan sama tersebut merupakan keinginan warga. Nama kampung atau desa disesuaikan dengan budaya atau sejarah mereka dan kebetulan mirip bahkan sama persis dengan kampung atau desa lainnya. DPRD tidak bisa mengubah nomenklatur nama-nama tersebut kecuali ada permintaan dari warga.
 
(Sumber : Harian Umum Pikiran Rakyat Edisi Selasa, 28 Juli 2009)

Lainnya