Berita

Pengobatan Massal "Kaki Gajah"

Selasa, 10 November 2009

    Kab. Bandung merupakan daerah pertama yang melaksanakan program Pengobatan Massal Filariasis Nasional untuk 32 Juta Penduduk Indonesia Tahun 2009 secara serentak. Sebelumnya, sudah ada beberapa daerah yang melaksanakan pengobatan, namun tidak dilakukan secara serentak.

    Lewat hasil pemeriksaan sampel darah jari (SDJ) yang dilakukan Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes awal tahun lalu, Kab. Bandung dinyatakan sebagai daerah endemis filariasis. Oleh karena itu, seluruh warga Kab. Bandung harus meminum obat selama lima tahun berturut-turut.

    Seluruh masyarakat Kab. Bandung diharapkan untuk serentak meminum obat kaki gajah, agar mencegah semakin meluasnya penyakit kaki gajah, ucap Grace Mediana, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kab. Bandung, Senin (9/11). Momentum Hari Pahlawan dipilih agar seluruh masyarakat bisa mengingat dengan mudah. Sebelumnya, Dinkes Kab. Bandung merencanakan jadwal pengobatan serentak pada momentum Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, namun diundur karena alasan distribusi obat yang belum merata.

    Obat yang harus diminum adalah diethil carbamazine citrate (DEC), clbendazole, dan parasetamol dalam dosis tunggal, sekali dalam setahun. Tiga obat itu diberikan kepada setiap penduduk agar semua cacing mikrofilaria penyebab filariasis di dalam tubuh bisa dimusnahkan.

    Kalau di dalam tubuhnya ada mikrofilaria (ada larva cacing filarial) dan warga itu tidak meminum, maka gigitan nyamuk kemudian bisa menyebarkan lagi ke orang lain, akhirnya pengobatan ini tidak akan tuntas, karena dampak dari penyebaran penyakit ini tidak bisa langsung terlihat, bahkan ada yang sampai bertahun-tahun.

    Penyakit kaki gajah menyebar secara cepat selama kurun waktu sembilan tahun di seluruh wilayah Jawa Barat. Selain Kab. Bandung, ada sepuluh daerah lain di Jawa Barat yang merupakan daerah endemis kaki gajah. Daerah tersebut adalah Kab. Bekasi, Kota Bekasi, Kab. Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Kab. Karawang, Kab. Purwakarta, Kab. Subang, Kab. Tasikmalaya, dan Kab. Kuningan.

    Kesiapan kami untuk pencanangan besok (hari ini) sudah maksimal, karena sosialisasi program ini sudah dilakukan sejak pertengahan tahun lalu. Dari segi kader dan petugas posyandu hingga obat, seluruhnya sudah didistribusikan, kita juga sudah menyediakan 10 persen cadangan obat.

    Mengenai efek samping, Grace juga mengatakan sudah menyiapkan alur antisipasi. Efek samping obat pastinya akan selalu ada, tetapi berbeda untuk tiap orang, makanya disarankan agar warga bisa makan terlebih dahulu sebelum mengonsumsi obat.

    Efek samping tersebut beragam, seperti pusing, mual, pening, pegal-pegal, hingga demam. Namun, Dinkes Kab. Bandung sudah menyiapkan sejumlah RS rujukan jika hal tersebut terjadi, yaitu RSUD Soreang, RSUD Majalaya, RS Bina Sehat Dayeuhkolot, AMC Cileunyi, RS Lanud Sulaeman, dan RS Al Ihsan.

    Sementara itu, Rukun Warga (RW) 25 Kompleks Baleendah Permai, Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung, mengeluarkan surat edaran mengenai pemberian obat penyakit filariasis yang dilaksanakan pada Selasa (10/11). Surat tersebut dibagikan langsung ke rumah warga oleh pengurus RT setempat sejak Minggu (8/11).

    Dalam surat yang ditandatangani Ketua RW 25, M.S. Hadi mengimbau kepada warga RW 25, untuk mengikuti program nasional pengobatan penyakit kaki gajah yang dilaksanakan pada Selasa. Dalam surat itu tertulis pelaksanaan pengobatan itu dilakukan mulai pukul 8.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB bertempat di posyandu, dan menyebutkan ketentuan umur.

    Imbauan juga telah diinformasikan melalui sekolah-sekolah di Baleendah agar siswanya ikut menyukseskan pemberian obat kaki gajah tersebut. Bahkan, sejak Senin (9/11) hingga Selasa (10/11), murid SD diliburkan, seperti di SD Negeri Galih Pawarti Kompleks Wartawan Baleendah Kab. Bandung.

 

 

Sumber : Harian Umum Pikiran Rakyat, Selasa 10 Nopember 2009

Lainnya