Geografi dan Demografi

Aspek Geografi

Selasa, 17 Mei 2016

 

1.     Letak, Luas dan Batas Wilayah
     

Letak Kabupaten Bandung secara administratif di dalam Provinsi Jawa Barat terletak diantara Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Garut. Peta orientasi wilayah Kabupaten Bandung secara lebih rinci ditunjukkan pada Gambar 2.1.

Wilayah Kabupaten Bandung memiliki luas wilayah sebesar 176.238,67 Ha, yang terdiri dari 31 kecamatan, 270 desa, dan 10 kelurahan. Batas wilayah administrasi Kabupaten Bandung adalah sebagai berikut:

  • Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, dan Kabupaten Sumedang;
  • Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Garut;
  • Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Garut dan Kabupaten Cianjur;
  • Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, dan Kota Cimahi.

Peta batas administrasi Kabupaten Bandung secara lebih rinci ditunjukkan pada Gambar 2.2.



2.    

Topografi

     

Kabupaten Bandung secara geografis terletak pada koordinat 107o14’-107o56’ Bujur Timur dan 6o49’-7o18’ Lintang Selatan. Kabupaten Bandung termasuk wilayah dataran tinggi dengan kemiringan lereng antara 0-8%, 8-15% hingga di atas 45%. Sebagian besar wilayah Kabupaten Bandung berada diantara bukit-bukit dan gunung-gunung, seperti:

  • Di Utara terdapat Bukit Tunggul dengan tinggi 2.200 m, Gunung Tangkuban Parahu dengan tinggi 2.076 m, yang berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Purwakarta.
  • Di Selatan terdapat Gunung Patuha dengan tinggi 2.334 m, Gunung Malabar dengan tinggi 2.321 m, Gunung Papandayan dengan tinggi 2.262 m, dan Gunung Guntur dengan tinggi 2.249 m, yang berbatasan dengan Kabupaten Garut.

3.    

Hidrologi

     

Kabupaten Bandung memiliki potensi hidrologi berupa sumber daya air yang cukup melimpah, baik air bawah tanah maupun air permukaan. Air permukaan terdiri dari 4 danau alam, 3 danau buatan serta 172 buah sungai dan anak-anak sungai. Pemanfaatan sumber air permukaan pada umumnya untuk memenuhi kebutuhan pertanian, industri, dan sosial lainnya. Pemanfaatan air tanah dalam (kedalaman 60-200 m) dipergunakan untuk keperluan industri, non industri, dan sebagian kecil untuk rumah tangga.

Sebagian besar masyarakat memanfaatkan air tanah bebas (sumur gali) dan air tanah dangkal (kedalaman 24 sampai 60 meter) untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga serta sebagian kecil menggunakan fasilitas dari PDAM terutama di wilayah perkotaan.

Kabupaten Bandung memiliki kondisi curah hujan rata-rata mencapai 1.500-4.000 mm per tahun atau jika dihitung luas lahan yang ada maka volume air yang turun di wilayah Kabupaten Bandung dapat mencapai 2,643-7,05 milyar meter kubik. Potensi air yang begitu besar tersebut apabila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan banyak genangan banjir di berbagai wilayah.

 4.    

Klimatologi 

     

Kabupaten Bandung memiliki iklim tropis yang dipengaruhi oleh iklim muson dengan curah hujan rata-rata
antara 1.500 mm sampai dengan 4.000 mm per tahun. Suhu udara berkisar antara 12oC sampai 24oC dengan kelembaban antara 78% pada musim hujan dan 70% pada musim kemarau. 

 5.    

Penggunaan Lahan 

     

Penggunaan lahan eksisting di Kabupaten Bandung terdiri atas kawasan lindung, kawasan budidaya pertanian, non pertanian, dan kawasan lainnya. Penggunaan lahan di kawasan lindung meliputi belukar, danau/waduk, hutan, rawa, semak, dan sungai. Sedangkan kawasan budidaya pertanian meliputi kebun campur, perkebunan, sawah, ladang, dan tegal. Besaran penggunaan lahan setiap lahan disajikan dalam tabel berikut ini.

     

     

Lahan di Kabupaten Bandung digunakan sebagian besar sebagai kawasan budidaya pertanian, yaitu seluas 53,22% dari luas keseluruhan 176.238,67 Ha. Penggunaan lahan lainnya, yaitu kawasan lindung sebesar 33,83%, kawasan budidaya non pertanian 12,44%, dan kawasan lainnya 0,51%. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kabupaten Bandung masih berupa kawasan ruang terbuka, dimana mampu menyerap air larian hujan yang mencapai 2.000-3.500 mm per tahun. Berdasarkan luas lahan terbuka yang ada di Kabupaten Bandung baik yang berupa kawasan lindung maupun kawasan budidaya, tanah di Kabupaten Bandung memiliki kemampuan untuk menyerap air sebanyak 0,793-2,115 miliar meter kubik per tahun. Potensi kawasan resapan air ini jika dikelola dengan baik dapat dioptimalkan sebagai salah satu cara untuk mengendalikan banjir pada saat puncak musim hujan tiba.

Kawasan resapan air di Kabupaten Bandung dibagi menjadi 5 kategori, yaitu daerah resapan utama, daerah resapan tambahan, daerah resapan tak berarti, daerah pelepasan air tanah, dan daerah kedap air. Daerah resapan utama di Kabupaten Bandung terletak lebih banyak di bagian selatan, diantaranya di Kecamatan Rancabali, Kecamatan Pasirjambu, dan Kecamatan Ciwidey. 
Sementara, daerah kedap air di Kabupaten Bandung terletak di Kecamatan Kutawaringin. Daerah pelepasan air tanah di Kabupaten Bandung terletak di Kecamatan Margahayu, Kecamatan Katapang, Kecamatan Bojongsoang, Kecamatan Baleendah, Kecamatan Rancaekek, Kecamatan Solokanjeruk, dan Kecamatan Majalaya.

Oleh sebab itu, pada musim penghujan, daerah-daerah yang berada di kecamatan tersebut seringkali mengalami masalah banjir karena merupakan kawasan pelepasan air tanah. Peta kawasan resapan air di Kabupaten Bandung secara lebih rinci dapat dilihat pada gambar berikut ini.

 6.    

Potensi Pengembangan Wilayah

     

Berdasarkan data guna lahan yang telah dijelaskansebelumnya, kawasan budidaya pertanian mendominasi lahan di Kabupaten Bandung dengan persentase luas diatas 50%. Lahan budidaya pertanian yang luas ini menjadi potensi yang luar biasa bagi Kabupaten Bandung dalam hal pengelolaan pertanian.Selain dipengaruhi oleh penggunaan lahan, potensi pertanian juga dipengaruhi oleh topografi dari wilayah itu sendiri. Kabupaten Bandung memiliki topografi yang bervariasi yang menyebabkan komoditas unggulan pertanian dari masingmasing wilayah juga bervariasi dan memiliki kekhasannya sendiri.

Komoditas unggulan pertanian yang dimiliki Kabupaten Bandung tidak hanya diunggulkan di tingkat kabupaten, tetapi juga menembus tingkat provinsi dan nasional. Komoditas tersebut dapat dikategorikan sebagai komoditas khas Kabupaten Bandung, dimana kekhasan tersebut dapat dilihat dari perbedaan karakteristik komoditas yang dimiliki Kabupaten Bandung dengan daerah lainnya. Perbedaan karakteristik komoditas ini diantaranya berdasarkan jenis komoditas, besaran produksi serta cita rasa yang dimilikinya. Komoditas pertanian khas Kabupaten Bandung yang menjadi unggulan diantaranya yaitu strawberry, kopi serta sapi perah dan produk turunannya. Selain pertanian, sektor industri pengolahan pun memiliki kontribusi yang berarti bagi perekonomian di Kabupaten Bandung. Aktivitas industri pengolahan ini dilakukan di lahan kawasan budidaya non pertanian khususnya lahan industri. Pada tahun 2011 tercatat lahan kegiatan industri di Kabupaten Bandung mencapai luas 1.408,88 Ha dengan jumlah unit industri sebanyak 711. Industri tersebut meliputi industri besar, menengah, dan kecil yang didominasi industri tekstil dan produk turunannya. 
Adapun potensi pengembangan wilayah yang dikembangkan saat ini antara lain:

    a. 

Kawasan Agropolitan Ciwidey

     

Kawasan Agropolitan Ciwidey meliputi 3 Kecamatan yaitu, Kecamatan Pasirjambu, Kecamatan Ciwidey dan Kecamatan Rancabali. Secara umum kawasan Pacira memiliki banyak potensi pertanian dan peternakan. Untuk potensi pertanian terdapat tanaman pangan dan hortikultura, sedangkan potensi peternakan terdapat sapi perah. Jenis komoditi unggulan yang paling banyak di wilayah Pacira untuk tingkat desa yaitusapi perah tersebar di 19 desa, padi sawah tersebar di 18 desa, buncis, tomat dan cabe tersebar di 11 desa, alpukat dan pisang tersebar di 11 desa, teh rakyat tersebar di 9 desa, kopi tersebar di 7 desa, dan strawberry tersebar di 6 desa.

    b.

Kawasan Agropolitan Pangalengan

     

Berdasarkan masterplan agropolitan Kecamatan Pangalengan 2006-2010 telah ditentukan tiga komoditas unggulan untuk sektor pertanian yaitu jagung, kentang dan kubis. Selain produk sayuran, Pangalengan memiliki beberapa potensi di sektor perkebunan
dan peternakan, yang meliputi:

  • Perkebunan teh, baik milik swasta, negara, maupun perkebunan rakyat.
  • Perkebunan kopi (sebagian besar milik masyarakat), dan
  • Peternakan, dengan adanya industri makanan olahan seperti industri pembuatan dodol, karamel, kerupuk susu dsb.
     c.

IPAL Terpadu Majalaya

     

Kabupaten Bandung merupakan sentra industri tekstil di Jawa Barat, salahsatunya berada di Kecamatan Majalaya.Untuk mencegah dan mengendalikan pencemaran akibat pembuangan air limbah industri tekstil ke badan air penerima, direncanakan pembangunan dan pengoperasian Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terpadu untuk industri tekstil dalam pengolahan air limbah dengan biaya yang lebih ekonomis.

     d.

Meat Business Center (MBC)

     

Merupakan Rumah Potong Hewan (RPH) yang mengintegrasikan sistem agribisnis berbasis pemotongan ternak. Konsep ini mengintegrasikan sub sistem produksi ternak, pengolahan dan pemasaran ke dalam satu lokasi kegiatan usaha. MBC terletak di Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah seluas 2 Ha. Kapasitas potong 80-200 ekor/hari. Kegiatan yang dilakukan berupa pemotongan hewan berstandar SNI.

    e.

Panas Bumi

     

Kabupaten Bandung memiliki potensi energi panas bumi sebesar 2.711 megawatt (mW). Dari jumlah tersebut, yang sudah termanfaatkan (ter-install) mencapai ±697 mW masing-masing di wilayah Kamojang, Wayang Windu, Darajat, Patuha, dan Area Cibuni.Energi yang berasal dari Kabupaten Bandung sudah mampu mensuplai kebutuhan energi listrik Jawa-Madura-Bali dan ini akan terus berkembang dengan adanya perluasan di area Kamojang, Wayang Windu, dan Patuha dengan total rencana perluasan mencapai sekitar 360 mW. Bahkan sejak bulan Mei 2012, telah dimulai pembangunan PLTP Patuha Unit I dengan
kapasitas 55 MW.

 7.    

Pariwisata

     

Kabupaten Bandung banyak memiliki panorama pariwisata yang cukup indah dan alami di Kawasan Bandung Selatan serta merupakan tujuan utama kunjungan domestik dari Bandung maupun dari luar Bandung bahkan dari mancanegara, adapun kawasan pariwisata dimaksud terdiri dari: 

     a.

Kawasan Pariwisata Alam, Meliputi  :  

     

Gunung Patuha/Kawah Putih, Ranca Upas, Cimanggu, Walini, Situ Patengan, Kawah Cibuni, Curug Cisabuk (Kecamatan Rancabali), Gunung Puntang, arung jeram lamajang (Kecamatan Cimaung), Cibolang, Punceling, Situ Cileunca,
Kawah Gunung Papandayan, Arung Jeram Palayangan (Kecamatan Pangalengan), Situ Cisanti (Kecamatan Kertasari), Kawah kamojang, Situ Ciarus (Kecamatan Ibun), Gunung Keneng (Kecamatan Ciwidey), Curug Cinulang (Kecamatan Cicalengka), Curug Eti (Kecamatan Paseh), Situ Sipatahunan (Kecamatan Baleendah), Oray Tapa (Kecamatan Cimenyan), Batukuda (Kecamatan
Cileunyi), Curug Cilengkrang (Kecamatan Cilengkrang).

    b.

Kawasan Pariwisata Budaya, meliputi: 

     

Gunung Padang (Kecamatan Ciwidey), Rumah adat Cikondang, Rumah Hitam (Kecamatan Pangalengan), Rumah Adat Bumi Alit
(Kecamatan Banjaran), Situs Kampung Mahmud (Kecamatan Margaasih), Situs Karang Gantung (Kecamatan Pacet), Situs Bojongmenje (Kecamatan Rancaekek), Sentra Seni Jelekong (Kecamatan Baleendah), Sentra Seni Cimenyan (Kecamatan Cimenyan), Sentra Kerajinan (Kecamatan Pasirjambu), Sentra Wisata Seni Benjang (Kecamatan Cileunyi).

    c.

Kawasan Pariwisata Agro, meliputi:

     
  • Agrowisata Strawberry: Kecamatan Pasirjambu, Kecamatan Rancabali, Kecamatan Ciwidey, Kecamatan Pacet, Kecamatan Arjasari, Kecamatan Pangalengan, Kecamatan Ibun, Kecamatan Paseh;
  • Agrowisata Teh: Kertamanah, Malabar (Kecamatan Pangalengan), Rancabali (Kecamatan Rancabali), Gambung (Kecamatan Pasirjambu);
  • Agrowisata Sayuran: Kecamatan Pasirjambu, Kecamatan Rancabali, Kecamatan Ciwidey, Kecamatan Pacet, Kecamatan Kertasari, Kecamatan Arjasari, Kecamatan Pangalengan;
  • Agrowisata Herbal: Kecamatan Rancabali, Kecamatan Pasirjambu, Kecamatan Ciwidey.
    d.

Kawasan Pariwisata Terpadu dan Olahraga:

     

Stadion Si Jalak Harupat (Kecamatan Kutawaringin), Arena Golf Margahayu/BIG (Kecamatan Margahayu), arena Dago Golf (Kecamatan Cimenyan), Kawasan Wisata Terpadu Cimenyan (Kecamatan Cimenyan), serta Kawasan Pariwisata Terpadu Sekitar Situ Cileunca (Kecamatan Pangalengan).

 8.    

Potensi Kawasan

     

Berkaitan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bandung, terdapat beberapa kawasan yang memiliki fungsi strategis, struktur dan pola ruang. Kawasan prioritas yang akan dikembangkan meliputi:

     a.

Kawasan Terpadu Kota Baru Tegalluar

     

Kawasan Terpadu Kotabaru Tegalluar merupakan kawasan strategis dengan luas ±3.500 ha yang terdiri dari pengembangan kawasan pemukiman skala besar, kawasan industri, pengembangan waduk/danau buatan, dan kawasan rekreasi.

     b. 

Kawasan Terpadu Permukiman dan Industri Margaasih

     

Kawasan Terpadu Permukiman dan Industri Margaasih merupakan kawasan strategis dengan luas ±450 ha untuk pengembangan kawasan industri non-polutif.

     c.

Kawasan Terpadu Stadion Olahraga Si Jalak Harupat

     

Pengembangan Kawasan Terpadu Stadion Olahraga Si Jalak Harupat diarahkan menjadi kawasan strategis yaitu sebagai kawasan pertumbuhan baru dengan peruntukan lahan kawasan pengembangan fasilitas umum olahraga dan rekreasi. Kawasan Terpadu Stadion Olahraga Si Jalak Harupat dipersiapkan oleh Provinsi Jawa Barat untuk menjadi tuan rumah PON ke-XIX tahun 2016. Kawasan ini memiliki luas ±740 ha yang terdiri dari kawasan inti stadion (sport centre) dengan luas ±130 hadan kawasan pendukung dengan luas ±610 ha terletak di Kecamatan Kutawaringin yang diarahkan untuk kegiatanjasa/perdagangan, perumahan, industri non polutif serta kegiatan komersial lainnya.

Kerangka pemikiran hubungan antara kondisi geografi daerah dengan potensi pengembangan wilayah adalah sebagai berikut.

 9.     Wilayah Rawan Bencana
      Kabupaten Bandung merupakan dataran tinggi berbentuk cekungan di mana sungai Citarum sebagai sentral cekungan menjadi muara bagi anak-anak sungai dari utara selatan, dan timur. Kondisi geografis tersebut menyebabkan tingkat kerentanan bencana alam di Kabupaten Bandung cukup tinggi.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2011, Kabupaten Bandung menduduki peringkat keempat tingkat rawan bencana diantara 494 kabupaten yang ada di Indonesia. Sedangkan di tingkat Provinsi Jawa Barat menempati ranking ketiga setelah Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya. Tingginya tingkat kerentanan bencana diukur dari berbagai faktor diantaranya jumlah kasus yang terjadi hingga potensi wilayahnya. Berikut adalah peta wilayah dengan potensi bencana
di Kabupaten Bandung.

      Kondisi geografis Kabupaten Bandung yang berupa dataran tinggi berbentuk cekungan dikombinasikan dengan banyaknya alih fungsi lahan yang terjadi baik dari pertanian dan daerah resapan menjadi permukiman maupun kawasan hutan menjadi lahan pertanian musiman menyebabkan tingginya sedimentasi dan bencana banjir. Selain itu, terganggunya sistem jaringan irigasi dan drainase juga berakibat pada timbulnya genangan dan banjir di beberapa titik lokasi terutama wilayah permukiman seperti banjir di Cieunteung-Baleendah, Dayeuhkolot serta jalan terusan Kopo.

Kondisi ini juga dipengaruhi oleh status daerah pada lokasi-lokasi tersebut yang merupakan daerah pelepasan air tanah, sehingga air tidak dapat terserap di daerah tersebut dan pada akhirnya menimbulkan banjir. Tingkat banjir dengan status tinggi terdapat di Kecamatan Dayeuhkolot, Kecamatan Bojogsoang, dan Kecamatan Baleendah. Peta kawasan rawan banjir di Kabupaten Bandung dapat dilihat lebih rinci pada Gambar 2.8.

Selain itu, Kabupaten Bandung juga berisiko mengalami bencana letusan gunung berapi di bagian selatan dan timur Kabupaten Bandung. Namun zona bahaya gunung berapi ini masih berada pada zona I dan zona II, dimana bukan merupakan zona dengan tingkat kerentanan paling tinggi. Kecamatan yang berada di zona I bahaya gunung berapi adalah Kecamatan Kertasari, Kecamatan Ibun, dan Kecamatan Paseh. Sementara kecamatan yang berada di zona II adalah Kecamatan Kertasari dan sebagian kecil daerah di Kecamatan Ibun dan Kecamatan Paseh.
Peta kawasan risiko bencana gunung berapi di Kabupaten Bandung dapat dilihat lebih rinci pada Gambar 2.9.



Selain risiko bencana banjir dan gunung berapi, Kabupaten Bandung juga rawan terhadap bencana gempa bumi. Tingkat risiko bencana ini cukup tinggi karena pada sebagian besar luas wilayah Kabupaten Bandung memiliki tingkat kerentanan gempa yang tinggi dan sebagian lainnya memiliki tingkat kerentanan menengah. Tingkat kerentanan gempa dengan status tinggi berada di Kecamatan Rancabali, Kecamatan Pasirjambu, Kecamatan Pangalengan, Kecamatan Cimaung, Kecamatan Banjaran, Kecamatan Ibun, Kecamatan Cikancung,Kecamatan Cicalengka, dan sebagian Kecamatan Rancaekek.
Sementara kecamatan lainnya berada pada tingkat kerentanan gempa dengan status menengah. Berikut peta rawan gempa
bumi di Kabupaten Bandung.

     

Bencana lainnya yang berpotensi terjadi di Kabupaten Bandung adalah risiko gerakan tanah mengingat topografi dan kontur wilayahnya yang berbukit-bukit dengan beda ketinggian dataran memiliki rentang yang cukup lebar. Kawasan rawan gerakan tanah tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Bandung, dimulai dari bagian utara dengan tingkat kerentanan gerakan tanah sangat rendah, menuju bagian tengah dan selatan Kabupaten Bandung yang memiliki tingkat kerentanan rendah dan menengah, serta beberapa kawasan di bagian selatan yang memiliki tingkat kerentanan gerakan tanah tinggi. Berikut peta rawan gerakan tanah di Kabupaten Bandung. Daerah dengan tingkat kerentanan gerakan tanah tinggi hanya terdapat di sebagian kecil daerah di Kecamatan Rancabalidan Kecamatan Pasirjambu. Sementara sebagian besar daerah lainnya memiliki tingkat kerentanan gerakan tanah menengahhingga sangat rendah. Berikut adalah peta rawan gerakan tanah di Kabupaten Bandung.





 Sumber : RKPD Pemkab.Bandung Tahun 2016

Lainnya