Geografi dan Demografi

Aspek Geografi

Jumat, 06 Maret 2015

1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah
    Luas wilayah Kabupaten Bandung adalah 176.238,67 ha, terdiri dari 31 kecamatan, 270 desa,
    dan 10 kelurahan.Batas wilayah administrasi Kabupaten Bandung adalah:
    1) Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, dan Kabupaten Sumedang;
    2) Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Garut;
    3) Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Garut dan Kabupaten Cianjur;
    4) Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, dan Kota Cimahi.
   Secara geografis Kabupaten Bandung terletak pada koordinat 107 o 14‟-107 o 56‟
   Bujur Timur dan 6 o 49‟-7 o 18‟ Lintang Selatan.

   Kabupaten Bandung termasuk wilayah dataran tinggi dengan kemiringan lereng antara 0-8%, 8-15%
   hingga di atas 45%. Sebagian besar wilayah Kabupaten Bandung berada diantara bukit-bukit
   dan gunung-gunung, seperti:
   1) Disebelah utara terdapat Bukit Tunggul dengan tinggi 2.200m, Gunung Tangkuban Parahu dengan tinggi 2.076m,
       yang berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Purwakarta.
   2) Di sebelah selatan terdapat Gunung Patuha dengan tinggi 2.334m, Gunung Malabar dengan tinggi 2.321m,
       GunungPapandayan dengan tinggi 2.262m, dan Gunung Guntur dengan tinggi 2.249m, yang berbatasan
       dengan Kabupaten Garut.

   Kabupaten Bandung beriklim tropis yang dipengaruhi oleh iklim muson dengan curah hujan rata-rata antara 1.500mm    
   sampai dengan 4.000mm per tahun. Suhu udara berkisar antara 12 o C sampai 24 o C dengan kelembaban antara 78%   
   pada musim hujan dan 70% pada musim kemarau. Dampak dari kondisi geografis Kabupaten Bandung membuat potensi   
   hidrologi Kabupaten Bandung yaitu sumber daya air tersedia cukup melimpah, baik air bawahtanah maupun air
   permukaan. Air permukaan terdiri dari 4 danau alam, 3 danau buatan serta 172 buah sungai dan anak-anak sungai.
   Sumber air permukaan pada umumnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pertanian, industri, dan sosial lainnya
   sedangkan air tanah dalam (kedalaman 60-200m) pada umumnya dipergunakan untuk keperluan industri, non industri,   
   dan sebagian kecil untuk rumah tangga.

   Sebagian besar masyarakat memanfaatkan air tanah bebas (sumur gali) dan air tanah dangkal
   (kedalaman 24 sampai 60 meter) untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga serta sebagian kecil menggunakan fasilitas   
   dari PDAM terutama di wilayah perkotaan.Selain itu, kondisi curah hujan rata- rata di Kabupaten Bandung mencapai   
   1.500-4.000mm per tahun atau jika dihitung luas lahan yang ada maka volume air yang turun di wilayah Kabupaten
   Bandung dapat mencapai 2,643-7,05milyar meter kubik. Potensi air yang begitu besar tersebut apabila tidak
   dikelola dengan baik dapat menimbulkan banyak genangan banjir di berbagai wilayah.
   Penggunaan lahan eksisting di Kabupaten Bandung terdiri atas kawasan lindung, kawasan budidaya pertanian,
   non pertanian, dan kawasan lainnya. Penggunaan lahan di kawasan lindung meliputi belukar, danau/waduk, hutan,
   rawa, semak, dan sungai.

   Sedangkan kawasan budidaya pertanian meliputi kebun campur, perkebunan, sawah, ladang, dan tegal.
   Besaran penggunaan lahan setiap lahan di sajikan dalam tabel berikut ini:
























   

    Secara proporsi, penggunaan lahan di Kabupaten Bandung didominasi oleh kawasan budidaya pertanian yaitu seluas   
    53,22% dari luas keseluruhan 176.238,67 Ha. Penggunaan lahan lainnya yaitu kawasan lindung sebesar 33,83%,  
    kawasan budidaya non pertanian 12,44%, dan kawasan lainnya 0,51%.

    Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kabupaten Bandung masih berupa kawasan ruang terbuka,
    dimana mampu menyerap air larian hujan yang mencapai 2.000-3.500mm per tahun. Berdasarkan luas lahan terbuka  
    yang ada di Kabupaten Bandung baik yang berupa kawasan lindung maupun kawasan budidaya, tanah di Kabupaten
    Bandung memiliki kemampuan untuk menyerap air sebanyak 0,793-2,115 miliar meter kubik per tahun.

2. Potensi Pengembangan Wilayah
    Berdasarkan data guna lahan yang telah dijelaskan sebelumnya, kawasan budidaya pertanian mendominasi lahan di
    Kabupaten Bandung dengan persentase luas diatas 50%. Lahan budidaya pertanian yang luas ini menjadi potensi   
    yang luar biasa bagi Kabupaten Bandung dalam hal pengelolaan pertanian.

    Selain dipengaruhi oleh penggunaan lahan, potensi pertanian juga dipengaruhi oleh topografi dari wilayah itu sendiri.  
    Kabupaten Bandung memiliki topografi yang bervariasi yang menyebabkan komoditas unggulan pertanian dari masing-
    masing wilayah juga bervariasi dan memiliki kekhasannya sendiri. Komoditas unggulan pertanian yang dimiliki Kabupaten 
    Bandung tidak hanya diunggulkan di tingkat kabupaten, tetapi juga menembus tingkat provinsi dan nasional.
   
    Komoditas tersebut dapat dikategorikan sebagai komoditas khas Kabupaten Bandung, dimana kekhasan
    tersebut dapat dilihat dari perbedaan karakteristik komoditas yang dimiliki Kabupaten Bandung dengan daerah lainnya.    
    Perbedaan karakteristik komoditas ini diantaranya berdasarkan jenis komoditas, besaran produksi serta cita rasa
    yang dimilikinya. Komoditas pertanian khas Kabupaten Bandung yang menjadi unggulan diantaranya yaitu strawberry,
    kopi serta sapi perah dan produk turunannya.

    Selain pertanian, sektor industri pengolahan pun memiliki kontribusi yang berarti bagi perekonomian
    di Kabupaten Bandung. Aktivitas industri pengolahan ini dilakukan di lahan kawasan budidaya non pertanian
    khususnya lahan industri. Pada tahun 2011 tercatat lahan kegiatan industri di Kabupaten Bandung mencapai
    luas 1.408,88 Ha dengan jumlah unit industri sebanyak 711. Industri tersebut meliputi industri besar, menengah,
    dan kecil yang didominasi industri tekstil dan produk turunannya.

   Adapun potensi pengembangan wilayah yang dikembangkan saat ini antara lain:

  1) Kawasan Agropolitan Ciwidey
      Kawasan Agropolitan Ciwidey meliputi 3 Kecamatan yaitu, Kecamatan Pasirjambu, Kecamatan Ciwidey
      dan Kecamatan Rancabali. Secara umum kawasan Pacira memiliki banyak potensi pertanian dan peternakan,
      yaitu pertanian: potensi kawasan Pacira, terdiri dari tanaman pangan dan hortikultura, peternakan:potensi kawasan    
      Pacira adalahsapi perah. Jenis komoditi unggulan yang paling banyak di wilayah Pacira untuk tingkat desa yaitu sapi
      perah tersebar di 19 desa, padi sawah tersebar di 18 desa, buncis, tomat dan cabe tersebar di 11 desa, alpukat dan
      pisang tersebar di 11 desa, teh rakyat tersebar di 9 desa, kopi tersebar di 7 desa, dan strawberry tersebar di 6 desa.

  2) Kawasan Agropolitan Pangalengan
      Berdasarkan masterplan agropolitan Kecamatan Pangalengan 2006-2010 telah ditentukan tiga komoditas unggulan
      untuk sektor pertanian yaitu jagung, kentang dan kubis. Selain produk sayuran, Pangalengan memiliki beberapa potensi
      di sektor perkebunan dan peternakan yang meliputi:
      - Perkebunan teh, baik milik swasta, negara, maupun perkebunan rakyat.
      - Perkebunan kopi (sebagian besar milik masyarakat), dan
      - Peternakan, dengan adanya industri makanan olahan seperti industri pembuatan dodol, karamel, kerupuk susu,
        dan sebagainya.

   3) IPAL Terpadu Majalaya
       Kabupaten Bandung merupakan sentra industri tekstil di Jawa Barat, salahsatunya berada di Kecamatan Majalaya.  
       Untuk mencegah dan mengendalikan pencemaran akibat pembuangan air limbah industri tekstil ke badan air penerima,  
       direncanakan pembangunan dan pengoperasian Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terpadu untuk industri tekstil
       dalam pengolahan air limbah dengan biaya yang lebih ekonomis.

   4) Meat Business Center (MBC)
       Merupakan Rumah Potong Hewan (RPH) yang mengintegrasikan sistem agribisnis berbasis pemotongan ternak. Konsep
       ini mengintegrasikan sub sistem produksi ternak, pengolahan dan pemasaran ke dalam satu lokasi kegiatan usaha. MBC
       terletak di Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah seluas 2 Ha. Kapasitas potong 80-200 ekor/hari.
       Kegiatan yang dilakukan berupa pemotongan hewan berstandar SNI.

   5) Panas Bumi
       Kabupaten Bandung memiliki potensi energi panas bumi sebesar2.711 megawatt (mW). Dari jumlah tersebut,
       yang sudah termanfaatkan (ter-install) mencapai ±697 mW masing-masing di wilayah Kamojang, Wayang Windu, Darajat,
       Patuha, dan Area Cibuni.Energi yang berasal dari Kabupaten Bandung sudah mampu mensuplai kebutuhan energi
       listrik Jawa-Madura-Bali dan ini akan terus berkembang dengan adanya perluasan di area Kamojang, Wayang Windu,
       dan Patuha dengan total rencana perluasan mencapai sekitar 360 mW. Bahkan sejak bulan Mei 2012,
       telah dimulai pembangunan PLTP Patuha Unit I dengan kapasitas 55 MW.


   6) Pariwisata
       Kabupaten Bandung banyak memiliki panorama pariwisata yang cukup indah dan alami di Kawasan Bandung Selatan   
       serta merupakan tujuan utama kunjungan domestik dari Bandung maupun dari luar Bandung bahkan dari mancanegara,
       adapun kawasan pariwisata dimaksud terdiri dari:
       - Kawasan Pariwisata Alam
       - Kawasan Pariwisata Budaya
       - Kawasan Pariwisata Agro, serta
       - Kawasan Pariwisata Terpadu dan Olahraga

         -  Kawasan Pariwisata Alam, meliputi: Gunung Patuha/Kawah Putih, Ranca Upas, Cimanggu, Walini, Situ Patengan, 
            Kawah Cibuni, Curug Cisabuk (Kecamatan Rancabali), Gunung Puntang, arung jeram lamajang (Kecamatan
            Cimaung), Cibolang, Punceling, Situ Cileunca, Kawah Gunung Papandayan, Arung Jeram Palayangan
            (Kecamatan Pangalengan), Situ Cisanti (Kecamatan Kertasari), Kawah kamojang, Situ Ciarus (Kecamatan Ibun),
            Gunung Keneng (Kecamatan Ciwidey), Curug Cinulang (Kecamatan Cicalengka), Curug Eti (Kecamatan Paseh),
            Situ Sipatahunan (Kecamatan Baleendah), Oray Tapa (Kecamatan Cimenyan), Batukuda (Kecamatan Cileunyi),
            Curug Cilengkrang (Kecamatan Cilengkrang). Kawasan Pariwisata Budaya, meliputi: Gunung Padang
            (Kecamatan Ciwidey), Rumah adat Cikondang, Rumah Hitam (Kecamatan Pangalengan), Rumah Adat Bumi Alit
            (Kecamatan Banjaran), Situs Kampung Mahmud (Kecamatan Margaasih), Situs Karang Gantung (Kecamatan Pacet),
            Situs Bojongmenje (Kecamatan Rancaekek), Sentra Seni Jelekong (Kecamatan Baleendah),
            Sentra Seni Cimenyan (Kecamatan Cimenyan), Sentra Kerajinan (Kecamatan Pasirjambu), Sentra Wisata Seni
            Benjang (Kecamatan Cileunyi).
         -  Kawasan Pariwisata Agro, meliputi:
             - Agrowisata Strawberry: Kecamatan Pasirjambu, Kecamatan Rancabali, Kecamatan Ciwidey, Kecamatan Pacet, 
               Kecamatan Arjasari, Kecamatan Pangalengan, Kecamatan Ibun, Kecamatan Paseh;
             - Agrowisata Teh:Kertamanah, Malabar (Kecamatan Pangalengan), Rancabali (Kecamatan Rancabali),
               Gambung (Kecamatan Pasirjambu);
             - Agrowisata Sayuran: Kecamatan Pasirjambu, Kecamatan Rancabali, Kecamatan Ciwidey, Kecamatan Pacet,     
               Kecamatan Kertasari, Kecamatan Arjasari, Kecamatan Pangalengan;
             - Agrowisata Herbal: Kecamatan Rancabali, Kecamatan Pasirjambu, Kecamatan Ciwidey.
             - Kawasan Pariwisata Terpadu dan Olahraga: Stadion Si Jalak Harupat (Kecamatan Kutawaringin),
               Arena Golf Margahayu/BIG (Kecamatan Margahayu), arena Dago Golf (Kecamatan Cimenyan),
               Kawasan Wisata Terpadu Cimenyan (Kecamatan Cimenyan), serta Kawasan Pariwisata Terpadu
               Sekitar Situ Cileunca (Kecamatan Pangalengan).

 7) Potensi Kawasan
     Berkaitan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bandung, terdapat beberapa kawasan yang
     memiliki fungsi strategis, struktur dan pola ruang.Kawasan prioritas yang akan dikembangkan meliputi:
     a. Kawasan Kota Baru Tegalluar;
     b. Kawasan Industri Margaasih;
     c. Kawasan Terpadu Stadion Olahraga Si Jalak Harupat.
        - Kawasan Terpadu Kota Baru Tegalluar
          Kawasan Terpadu Kotabaru Tegalluar merupakan kawasan strategis dengan luas ±3.500 ha yang terdiri
          dari pengembangan kawasan pemukiman skala besar, kawasan industri, pengembangan waduk/danau
          buatan, dan kawasan rekreasi.
       -  Kawasan Terpadu Permukiman dan Industri Margaasih
          Kawasan Terpadu Permukiman dan Industri Margaasih merupakan kawasan strategis dengan luas ±450 ha
          untuk pengembangan kawasan industri non- polutif.
       -  Kawasan Terpadu Stadion Olahraga Si Jalak Harupat
          Pengembangan Kawasan Terpadu Stadion Olahraga Si Jalak Harupat diarahkan menjadi kawasan strategis
          yaitu sebagai kawasan pertumbuhan baru dengan peruntukan lahan kawasan pengembangan fasilitas
          umum olahraga dan rekreasi. Kawasan Terpadu Stadion Olahraga Si Jalak Harupat dipersiapkan oleh
          Provinsi Jawa Barat untuk menjadi tuan rumah PON ke-XIX tahun 2016. Kawasan ini memiliki luas ±740
          ha yang terdiri dari kawasan inti stadion (sport centre) dengan luas ±130 ha dan kawasan pendukung dengan
          luas ±610 ha terletak di Kecamatan Kutawaringin yang diarahkan untuk kegiatan jasa/perdagangan,
          perumahan, industri non polutif serta kegiatan komersial lainnya.
          Kerangka pemikiran hubungan antara kondisi geografi daerah dengan potensi pengembangan wilayah yaitu
          sebagai berikut:



 3. Wilayah Rawan Bencana
     Kabupaten Bandung merupakan dataran tinggi berbentuk cekungan di mana sungai Citarum sebagai sentral cekungan    
     menjadi muara bagi anak-anak sungai dari utara, selatan, dan timur. Kondisi geografis tersebut menyebabkan tingkat
     kerentanan bencana alam di Kabupaten Bandung cukup tinggi.Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana   
     (BNPB) tahun 2011, Kabupaten Bandung menduduki peringkat ke-empat tingkat rawan bencana diantara 494
     kabupaten yang ada di Indonesia. Sedangkan di Tingkat Provinsi Jawa Barat menempati ranking ketiga setelah   
     Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya. Tingginya tingkat kerentanan bencana diukur dari berbagai faktor  
     diantaranya jumlah kasus yang terjadi hingga potensi wilayahnya.

     Kondisi geografis Kabupaten Bandung yang berupa dataran tinggi berbentuk cekungan dikombinasikan dengan  
     banyaknya alih fungsi lahan yang terjadi baik dari pertanian dan daerah resapan menjadi permukiman maupun kawasan
     hutan menjadi lahan pertanian musiman menyebabkan tingginya sedimentasi dan bencana banjir. Selain itu,
     terganggunya sistem jaringan irigasi dan drainase juga berakibat pada timbulnya genangan dan banjir di beberapa titik    
     lokasi terutama wilayah permukiman seperti banjir di Cieunteung-Baleendah, Dayeuhkolot serta jalan terusan Kopo dan
     lain sebagainya. Berikut adalah peta/gambaran Kabupaten Bandung: wilayah rawan bencana di Kabupaten Bandung:



 Sumber : RKPD  Kab.Bandung Tahun 2015

Lainnya