Berita

Pengusaha Sarung Majalaya Kewalahan Penuhi Pasar

Selasa, 24 Agustus 2010

    Silakan cek ke sentra-sentra produksi sarung baik di Majalaya, Paseh, Ibun, maupun Solokanjeruk. Saat ini sarung sudah sulit diperoleh, kata Ketua Himpunan Pengusaha Tekstil dan Produk Tekstil (Hipertek) Kab. Bandung Dedi Zaenal, di sela-sela kegiatan pasar murah di kompleks Kab. Bandung, Senin (23/8).

    Sebelumnya diberitakan, Persatuan Pengusaha Tekstil Majalaya (PPTM) Kab. Bandung mengeluhkan menumpuknya stok sarung produksi mereka. Stok yang menumpuk terutama untuk sarung corak tertentu akibat adanya sarung printing buatan pabrik.

    Menurut Dedi, pasar sarung hanya sepi pada pertengahan tahun atau sekitar Juni. Biasanya para pengusaha sarung akan memproduksi barang sebanyak-banyaknya untuk disimpan di gudang. Apalagi menjelang bulan Puasa dan Lebaran, pasti stok sarung habis.

    Dedi yang juga pengusaha tekstil mendapatkan order sarung hingga mencapai 1.000 kodi dari pengusaha Medan Sumatra Utara, untuk dikirim ke Malaysia. Saya sulit mencari sarung karena stoknya habis. Paling-paling dari tiap pengusaha sarung dapat sepuluh kodi sampai dua puluh kodi, lalu saya kumpulkan.

    Menurut Dedi, kelebihan para pengusaha sarung Majalaya adalah bisa memenuhi keinginan para pembeli. Misalnya ingin membuat sarung sekelas sarung bermerek yang mahal, tetapi dengan harga lebih murah, akan kami sanggupi. Terserah pesanan pembeli.

    Dedi mengakui, para pengusaha tekstil dan produk tekstil (TPT) tidak terpengaruh oleh serangan produk-produk Cina. Hanya, para pengusaha mengeluhkan cara pembayaran yang memakai giro sehingga perputaran uangnya seret dan mengganggu operasional usaha.

    Sistem pembayaran selama ini lebih banyak dalam bentuk giro yang baru bisa dicairkan dua bulan kemudian. Pengiriman barang terus dilakukan setiap minggu bahkan setiap hari. Namun, pencairan uangnya baru dua bulan kemudian. Menurut Dedi, pengusaha TPT Kab. Bandung tersebar di 25 kecamatan, sehingga kalau ada gangguan terhadap industri TPT akan berpengaruh besar kepada perekonomian Kab. Bandung, bahkan nasional.

    Keluhan lainnya berkaitan dengan skim kredit perbankan karena bunganya tinggi dengan prosedur yang berbelit-belit. Seharusnya untuk skim kredit usaha bisa lebih mudah seperti layaknya kredit sepeda motor. Masa untuk usaha lebih sulit daripada kredit motor. Saat ini bunga bank paling rendah 0,8 persen per bulan.

    Sementara itu, Pemkab Bandung berencana membuat pasar murah setiap bulan untuk membantu masyarakat dan pegawai di lingkungan pemkab. Selama ini pasar murah digelar secara insidental, seperti menjelang Lebaran.

    Kami memang sudah merencanakan untuk mengadakan pasar murah setiap bulan, misalnya pada awal bulan, kata Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Dinkoperindag) Kab. Bandung H. Bambang Budiraharjo, di sela-sela kegiatan pasar murah Ramadan di halaman Pemkab Bandung.

 

 

 

Sumber : Harian Umum Pikiran Rakyat, Selasa 24 Agustus 2010

 

 

 

Lainnya