Spotlight

Berita

Upah Minimum Naik 5,96%

Posting 2010-11-05

    Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kab. Bandung Jimmy Kartiwa menilai, kenaikan UMK itu wajar sebagai bentuk penyesuaian terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok. Yang menjadi masalah, tidak sedikit perusahaan hingga saat ini masih membayar buruh di bawah UMK. Ia mencontohkan beberapa perusahaan di Majalaya, yang belum mampu memenuhi UMK tahun ini. Dengan kenaikan itu, bisa jadi jumlah perusahan yang meminta penangguhan semakin banyak.

    Kita akui, masih banyak perusahaan yang hingga saat ini belum bisa membayar upah sesuai UMK. Akan tetapi, kita akan terus dorong agar industri-industri mayoritas melaksanakan kesepakatan UMK ini. Ini sudah menjadi kesepakatan. Kita harus menghormati, ujar Jimmy, Kamis (4/11).

    Sementara itu, Ketua Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kab. Bandung Ristadi menilai, besaran UMK tersebut cukup realistis. Tentu kita ingin naik lebih tinggi lagi. Akan tetapi, jika perusahaan tidak mampu memenuhi UMK, ujung-ujungnya muncul beragam permasalahan baru. Jika pabrik-pabrik bangkrut, mau bekerja di mana para buruh? UMK ini merupakan jalan tengah.

    Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kab. Bandung Dadang Supardi berharap, penetapan UMK akan mampu menjaga keberlangsungan iklim kerja, baik dari sisi pengusaha maupun buruh. Prioritas kita, buruh dan pengusaha sama-sama bisa bertahan. Ini penting, karena banyak pabrik yang gulung tikar atau melakukan efisiensi, dengan mengurangi tenaga kerja dalam beberapa tahun belakangan.

    Dadang mencontohkan kasus salah satu produsen besar kain gerai, yang melakukan pengurangan ribuan tenaga kerja belum lama ini. Sebab, UMK di Jawa Tengah jauh lebih rendah dari UMK Kab. Bandung, dengan selisih hingga Rp 200.000, perusahaan tersebut belakangan memilih membeli kain gerai dari pabrik di Jateng daripada memproduksi sendiri.

    Jimmy mengatakan hal yang sama. Tidak sedikit pengusaha garmen mengalihkan investasi mereka ke Jateng dan Jatim, karena upah buruh di sana lebih rendah. Selain itu, di Jabar seperti Sukabumi dan Subang, menjadi primadona baru karena UMK yang lebih rendah dibanding dengan Kab. Bandung.

    Di kawasan Bandung Raya, UMK Kab. Bandung seperti tahun-tahun sebelumnya, masih berada di bawah UMK Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kab. Bandung Barat. Namun, kata Dadang, dibandingkan Kab. Sumedang, UMK Kab. Bandung tahun depan lebih tinggi dengan selisih hingga sekitar Rp 13.000, dari sebelumnya hanya sekitar Rp 1.100.

 

 

 

Sumber : Harian Umum Pikiran Rakyat, Jumat 05 Nopember 2010

 

 

 



 

Selanjutnya

Disiapkan 11 Juta Tablet Obat Antifilariasis

Posting 2010-11-05

    Hal itu dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Kab. Bandung Ahmad Kustijadi, di sela-sela persiapan pengobatan massal antifilariasis di Puskesmas Kopo Bihbul, Kamis (4/11). Pertemuan ini dihadiri 276 bidan desa dari seluruh kecamatan serta sejumlah tokoh masyarakat dan LSM di…


Sebelumnya

Ratusan Hektare Sawah Rusak

Posting 2010-12-09

    Berdasarkan pemantauan, Rabu (8/12), dibandingkan dengan banjir sebelumnya, cakupan banjir di Kab. Bandung, yakni di Kec. Baleendah dan Dayeuhkolot, terus meluas. Hingga kemarin, sebanyak 12.000 rumah terendam. Terdapat penambahan sekitar 4.000…


 

Profile Kepala Daerah

profile kepala daerah

Agenda

-->

Sejarah Kabupaten Bandung

Media Informasi





Informasi Publik



Informasi Lelang



Suara Anda



Link Terkait

Web Statistic