Berita

Tol Soroja Terus Berlanjut

Rabu, 03 November 2010

    Meski pergantian tahun tinggal dua bulan lagi, Pemerintah Kab. Bandung mengaku tetap optimistis proses pembebasan lahan di Kec. Margaasih bakal tuntas tepat waktu. Karena ini sudah menjadi komitmen bersama, kami optimistis. Kami akan usahakan sekuat tenaga agar seluruh anggaran terserap, tidak seperti tahun lalu,ucap Ketua Tim Sembilan Sofian Nataprawira, Selasa (2/11).

    Ke-90 bidang tanah di Desa Margaasih dimiliki 58 warga. Proses penentuan harga tanah tersebut sebelumnya berjalan alot. Karena musyarawah untuk menentukan harga tak kunjung menghasilkan kata sepakat hingga tiga kali pertemuan, akhirnya dibuat surat penetapan yang mematok harga dengan menimbang saran tim apraissal independen. Sosialisasi terus dilakukan dan diharapkan dua minggu lagi pembayaran bisa dilaksanakan.

    Tahun ini anggaran pembebasan lahan yang dialokasikan dalam APBD provinsi sebesar Rp 30 miliar dan APBD Kab. Bandung Rp 28 miliar. Target tanah terbebaskan dengan anggaran tersebut tersebar di lima desa di Kec. Margaasih, yakni Desa Margaasih, Rahayu, Mekarrahayu, Nanjung, dan Cigondewah Hilir.

    Menyimak rumit dan panjangnya proses penentuan harga di Desa Margasari, wajar bila muncul keraguan proses pembebasan lahan di empat desa lainnya bakal tuntas sebelum ganti tahun. Apalagi di empat desa tersebut, tahapan pembebasan lahannya baru sampai pada pengukuran tanah.

    Kasubsi Pengadaan Tanah Instansi Pemerintah pada Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kab. Bandung Ristendi mengungkapkan, salah satu kendala di lapangan adalah banyaknya bidang tanah milik perusahaan. Di Rahayu saja, misalnya, terdapat tidak kurang dari 21 bidang tanah milik perusahaan. Saat melakukan pengukuran, tak jarang kita kesulitan menemui pemilik perusahaan. Beda halnya dengan tanah milik pribadi. Kesulitan ini yang agak memperlambat proses pengukuran.

    Selain terkendala lahan milik perusahaan, pengukuran tanah juga sedikit terlambat akibat adanya perubahan trase jalan tol di tengah jalan. Pengukuran ulang dilakukan lagi dan ini memakan waktu. Sebenarnya trase yang berubah tidak banyak. Tidak sampai satu kilometer panjangnya,kata Kepala Dinas Bina Marga Sofyan Sulaeman.

    Menurut Sulaeman, pengubahan trase harus dilakukan karena trase lama yang direncanakan tidak dapat diwujudkan di lapangan. Selain karena menabrak kuburan yang dikeramatkan, trase lama juga menerjang areal perumahan. Prinsip kita, trase jalan tol ini sesedikit mungkin melewati permukiman penduduk. Oleh karena itu, dilakukan perubahan di tengah jalan.

 

 

 

Sumber : Harian Umum Pikiran Rakyat, Rabu 03 Oktober 2010

 

 

 

Lainnya