Bupati H.U. HATTA JATIPERMANA Periode 1990-2000

Selasa, 07 Februari 2012



H.U. HATTA JATIPERMANA
Periode 1990-2000



Keberhasilan dari kepemimpinan Bupati Hatta secara personal mengarah pada gaya dan sikap dia yang mencoba untuk menjadi seorang Demokrat kepada masyarakat, aparat dan lembaga-lembaga lainnya. Kelebihan lain dari gaya kepemimpinan Hatta adalah mengarah pada kemampuannya untuk bekerja keras dan disiplin dalam melaksakan sesuatu program, serta kemampuan yang membaja untuk membawa masyarakat Kabupaten Bandung kearah kemajuan, sesuai amanah yang dijanjikannya pada saat disumpah.


Bupati H.U.Hatta saat dilantik oleh Gubernur
Tahun 1995
Menurut Bupati Hatta, disiplin saja belum cukup sebagai modal dalam pembangunan pemerintahan dan kemasyarakatan, pekerja keras dalam menghadapi tantangan dan persoalan dangan begitu refleksi diri menunjuk Bupati Hatta sebagai pemimpin yang bertipe pekerja keras.

Visi pada masa pemerintahan beliau adalah "Membangun masyarakat yang sejahtera, cerdas, tertib, demokrasi, bersih dan menegakkan pemerintahan yang berlegitimasi dengan mengedepankan supremasi hukum dan keadilan".

Selama menjabat sebagai Bupati Beliau mengawali kepemimpinannya dengan melahirkan program "Tahun Kualitas, Satata Sariksa, Bupati Saba Desa, Sautas dan program Jaga Bumi".



Makna program Tahun Kualitas yang digulirkan oleh Hatta pada tahun 1990 mengarah pada pengertian membangun kualitas manusia baik secara mental, teknis kerja maupun wawasan yang berguna untuk mendorong pembangunan yang berkualitas baik dalam proses pelaksanaanya maupun hasilnya.

Tujuan dari Tahun kualitas yang dibangun oleh beliau adalah menciptakan, mencetak dan mendorong aparat yang berbobot dan menciptakan suasana kerja kondusif bagi gerak langkah pembangunan. Ruang lingkup dari tujuan Tahun kualitas mencakup seluruh aspek kehidupan aparat pemerintah di daerah dalam menyelenggarakan bidang pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.

Pada tahun 1992 program beliau yang dijadikan andalan pada masa kepemimpinannya adalah Satata Sariksa (Sarasa). Program ini berakar pada kultur masyarakat, yang terpola dalam kehidupan kolektifisme. Pola kehidupan yang yang mementingkan hubungan emosional dan batiniah. Satata Sariksa memiliki etos kebersamaan, kegotong-royongan masyarakat yang loyal pada kepentingan umum dari pada mementingkan pribadi atau golongan.

Sasaran program Satata Sariksa terdiri atas 3 hal :

1. Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat
2. Mencegah kebocoran Anggaran atau keuangan
3. Menciptakan pembangunan infrastruktur yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Komplek Perkantoran Pemerintah Kabupaten Bandung di Soreang pada masa Bupati H.U. HATTA D tahun 1990-1992 dirampungkan. Lokasi perkantoran berada di Desa Pamekaran Kecamatan Soreang seluas 24 Ha, dengan menampilkan artsitektur khas gaya priangan sehingga komplek perkantoran ini disebut-sebut sebagai komplek perkantoran termegah di Jawa Barat.


Bupati H.U.Hatta meninjau pembangunan
di Komplek Pemda Soreang
Pembangunan fasilitas lain seperti Mesjid Agung Soreang (Al-Fathu), Lapang Upakarti, Kantor DPRD Kabupaten Bandung, Kantor-kantor Dinas, Lembaga lain fasilitas olah raga. Daerah TK II Kabupaten Bandung menjadi Kabupaten/Kota dengan Ibukota di Kota Soreang,

Rencana pada masa pemerintahan beliau diantaranya program membuat sarana olah raga stadion bertempat di Desa Cingcin beliau memberi nama "Stadion Aang Witarsa" beliau adalah tokoh olahraga di Soreang yang menjadi pemain sepakbola Tingkat Internasional melawan Uni Soviet. Nama programnya "Tool to The Cingcin" artinya Cingcin komplek olah raga (stadion lapangan terbuka dengan fasilitas kolam renang dan gedung tertutup) berdekatan dengan terminal dan pasarnya dipindahkan dekat terminal Cingcin, dari sanalah Soreang menjadi sebuah kota dengan nama Kota Soreang, komplek-komplek perumahan pun dibangun.

Patung Monumen perjuangan didepan Gedung Moch. Toha yaitu "Esa Hilang Dua Terbilang" Patung Pejuang dan Rakyat Petani dipertigaan Soreang-Banjaran.

Untuk menjaga keseimbangan lingkungan diadakan program penghijauan dengan penanaman 1000 pohon, areal pesawahan yang ada di Kota Soreang bertujuan sebagai paru-parunya Kota Soreang.

Sumber : Penelusuran Sejarah Pemerintah Kabupaten Bandung Tahun 1846 - 2010
BERLANGGANAN
BERITA LAINNYA
Dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 20 Tahun 2018 sebagai pengg
Inovasi dan terobosan yang dilakukan Bupati Bandung H. Dadang M. Naser berbuah manis. Atas kerja sab