Cieunteung Terendam Lagi Satu Rumah Ambruk, Ratusan Warga Kembali Mengungsi

Rabu, 08 April 2009

Robohnya rumah tidak permanen yang masih berbahan dasar kayu dan bilik itu pertama kali diketahui warga yang tengah mengevakuasi warga lainnya. Karena air terus meninggi, Pak RW meminta warga segera mengungsi. Saya ikut tim evakuasi dan saat berada di RT 4, rumah itu tiba-tiba saja roboh, kata salah seorang warga, Dedi (35), saat ditemui, Selasa (7/3). Berdasarkan pemantauan rumah yang roboh tersebut kini sudah terendam air yang tingginya hampir mencapai dua meter.

Ketua RW setempat, Jaja, mengatakan, rumah tersebut memang sudah doyong sejak lama. Namun, karena banjir terus merendam kawasan ini, lama-kelamaan material kayu yang menjadi bahan utama rumah tersebut lapuk dan akhirnya roboh seperti itu.

Menurut Jaja, di Kampung Cieunteung masih ada sepuluh rumah tidak permanen dan semipermanen lainnya yang kondisinya memprihatinkan. Rumah-rumah tersebut dikhawatirkan akan bernasib sama seperti rumah milik Daning yang roboh karena memang sudah tidak lagi terawat, setelah ditinggal pemiliknya mengungsi.

Tetapi rumah-rumah yang sudah permanen pun sama-sama rawan ambruk karena materialnya juga pasti melapuk akibat terendam air begitu lamanya. Oleh karena itu, Jaja berharap agar pemerintah segera memberikan perhatian dan bantuan kepada warga Cieunteung. Jangan sampai mereka baru mau memperhatikan kami setelah ada korban jiwa.

Sementara itu, banjir kembali menerjang rumah-rumah warga Kampung Cieunteung sejak Senin (6/3) petang. Air yang merendam rumah warga terus bertambah pada malam harinya. Ketinggian air sempat mencapai dua meter, ujar warga RT 1, Eti Hartati (44).

Karena ketinggian air terus bertambah dan arusnya semakin deras, Eti dan sejumlah warga lainnya memutuskan untuk kembali mengungsi. Ia memilih mengungsi di lantai dua Masjid At-Taqwa bersama tiga puluh warga lainnya. Sebagian warga yang lain kembali mengungsi ke kantor sekretariat salah satu partai politik yang sudah lima bulan terakhir menjadi tempat penampungan warga Cieunteung.

Menurut koordinator logistik di pengungsian tersebut, Sunjana, pengungsi kembali berdatangan pada Senin (6/3) malam. Siangnya pengungsi sempat hanya tinggal 75 orang dari 39 kepala keluarga, tetapi malam harinya mereka mulai berdatangan dan kini berjumlah 221 jiwa dari 53 kepala keluarga.

Sejauh ini, kata Sunjana, bantuan untuk para pengungsimasih lancar. Pihak Kecamatan Baleendah masih rutin memasok bahan makanan berupa beras, mi instan, dan ikan olahan dalam kaleng. Para pengungsi yang mulai menderita sakit, seperti terserang muntaber, batuk, dan pilek, dengan tanggap ditangani petugas dari puskesmas keliling yang selalu datang ke lokasi pengungsian setiap hari.

Sumber : Harian Umum Pikiran Rakyat, Rabu 8 April 2009

BERLANGGANAN
BERITA LAINNYA
Satuan Tugas (Satgas) penegakkan Peraturan Daerah (Perda) nomor 13 Tahun 2017 tentang Kawasan
Dalam Undang-Undang (UU) Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, ditegaskan bahwa setiap masyarakat m