Empat Hari, 140 Ribu Wisatawan Berlibur di Kabupaten Bandung

Jumat, 14 Juni 2019

Sedikitnya 140 ribu wisatawan yang didominasi wisatawan lokal, memilih Kabupaten Bandung sebagai destinasi wisata liburan hari raya Idul Fitri 1440 H tahun 2019. Sebagai salah satu daerah penyangga ibukota Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Bandung memiliki potensi wisata alam dan budaya maupun wisata pedesaan yang sangat mengagumkan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung Drs. H. Agus Firman Zaini,M.Si mengatakan, jumlah tersebut tercatat dari tanggal 5 s/d 9 Juni dengan 24 jumlah destinasi wisata. “Data ini kita catat sesuai laporan dari beberapa destinasi wisata saja, belum semua data masuk dan baru terhitung 5 s/d 9 Juni kemarin, yakni 143.173 wisatawan jadi kemungkinan nanti akan bertambah lagi” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya di Soreang, Rabu (12/6/2019).

Dia mengajak seluruh masyarakat untuk bisa menikmati dan menjaga destinasi wisata di setiap daerah, khususnya ke Kabupaten Bandung. “Kunjungan wisatawan akan menjadi daya dukungan, untuk kemajuan pariwisata di Kabupaten Bandung. Meningkatnya kunjungan ke daerah kami, dengan sendirinya juga meningkatkan kesejahteraan warga di Kabupaten Bandung,” ujar Agus Firman.

Dari 24 destinasi wisata yang baru tercatat, Agus menyebutkan 7 destinasi favorit yang setiap tahun menjadi pilihan wisatawan, diantaranya Kawah Putih (41.377 wisatawan), Walini (15,745), Glamping Lakeside (9.500) dan Cimanggu (6.652 wisatawan) yang berlokasi di Kecamatan Rancabali. “Selain itu ada juga destinasi Taman Hutan Rakyat (8.465) dan Tebing Keraton (5.121) di Kecamatan Cimenyan, serta destinasi favorit baru Barusen Hill di Pasirjambu dengan jumlah kunjungan mencapai 9.500 wisatawan,” kata dia.

Berbagai komunitas untuk menggerakkan pariwisata ujar Agus Firman, yakni Kompepar (Kelompok Penggerak Pariwisata), GenPI (Generasi Pesona Indonesia), PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia) dan yang lainnya. Sedangkan peran pemerintah dalam mendukung pariwisata ini sangat penting, yakni dalam hal koordinasi, serta penyediaan sarana dan prasarana pariwisata.

“Tourism itu kan terdiri dari amenitas, atraksi dan aksesibiltas, harus bisa dipastikan ketiganya tersedia dengan baik. Kalau aksesnya mudah, tempat ibadah tersedia, toko cenderamata, akses sanitasi baik, restoran bersih, sehat dengan makanan lezat serta aman dan nyaman, sudah pasti para pelancong akan betah berwisata di Kabupaten Bandung,” tentunya dengan memaksimalkan peran komunitas penggerak pariwisata,” tutur Agus Firman.

Untuk menunjang perkembangan pariwisata, Bupati Bandung H. Dadang M. Naser, SH, S.Ip.,M.Ip berharap agar pengelolaan destinasi wisata dapat disinergikan dengan beberapa faktor lainnya, seperti unsur akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah dan media bekerjasama untuk mencapai peningkatan dan percepatan pembangunan di bidang pariwisata.

“Perlu kita tahu, saat ini pengelolaan kawasan wisata yang berwawasan lingkungan menjadi prioritas utama Pemkab Bandung. Kelestarian alam merupakan modal utama pariwisata Kabupaten Bandung. Dari sekian banyak lokasi wisata alam, hampir semua menawarkan panorama alami, ditunjang dengan konsep wisata halal. Kondisi inilah yang terus dipertahankan oleh Pemerintah Kabupaten Bandung, sebagai modal penting serta ciri khas pariwisata di wilayah ini,” papar Bupati Bandung.

Keberhasilan Kabupaten Bandung dalam menata kawasan pariwisata tambahnya, juga ditandai dengan pembentukan 10 Desa Wisata pada tahun 2013. Kesepuluh desa wisata ini memiliki ciri khas masing-masing dan meilbatkan masyarakat sekitar. Salah satunya dengan membuat aturan lokal, yang pro perekonomian masyarakat sekitar seperti di Kawah Putih Ciwidey. Di tempat wisata ini, pengunjung yang membawa kendaraan pribadi dikenakan biaya progresif guna memberikan alternatif angkutan masyarakat sekitar.

“Dalam hal pengembangan pariwisata dan budaya di Kabupaten Bandung, kita harus kompak, saling support untuk membangun iklim pariwisata yang kondusif, mampu mendongkrak perekekonomian rakyat, juga mampu meningkatkan PAD (Pendapatan Asli daerah),” ungkapnya.

Dirinya pun berharap, penggenjotan sektor wisata ini tak hanya meningkatkan pendapatan daerah namun dapat berdampak pada perekonomian rakyat. "Kedepannya akan tumbuh perekonomian rakyat karena arus wisata akan lebih besar lagi. Akan kita bina masyarakat mengenai kepariwisataan dan selain hotel akan ada homestay di pedesaan bagi touris yang dapat menjadi daya tarik lebih." Pungkas Dadang.

Paket Wisata Edukasi Sabilulungan

Sementara Kepala Bidang Pemasaran Disparbud Vena Andriawan menjelaskan, selain wisata alam unggulan Pacira (Pasirjambu, Ciwidey dan Pasirjambu), ada juga destinasi wisata budaya di Kawasan Gedong Budaya Sabilulungan (GBS) di Soreang.

Paket wisata edukasi sabilulungan kata Vena, terdiri dari GBS, yakni gedung pertunjukan seluas 15 hektar yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan, Science Center, Dome Balerame dan Kawasan Kaulinan urang lembur yang sudah dibuka untuk umum. Sejak bulan April hingga pertengah Juni 2019 kata dia, sudah tercatat 14 ribu kunjungan wisatawan.

“Wisata edukasi sabilulungan ini wajib dikunjungi, karena ada berbagai sarana edukasi yang kekinian, seperti gedung pertunjukan yang megah berkapasitas 800 orang, 3D art galeri di GBS lantai 2 yang menunjukan kehidupan jaman dulu urang Sunda, juga Kawasan Kaulinan Urang Lembur di bagian belakang,” terang Vena.

Kemudian ada Dome Balerame sebagai arena terbuka untuk berbagai even. Sedangkan di Science Center lanjutnya, berbagai sarana edukasi yang menarik, mendidik dan instagramable. Sudah dilakukan revitalisasi sarana dan tampilan di Science Center cetusnya. Konten edukasi sejarah, tentang antariksa, augmented reality yakni teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi ataupun tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata, lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam kondisi sebenarnya.

“Ada juga wahana awan kinton yang unik, kemudian yang terbaru yaitu tangga yang diberi sensor gerak, tangganya akan bersuara angklung saat diinjak, serta di lantai 3 tersedia studio film 4 dimensi berkapasitas 50 orang,” jelasnya.

Mengenai wahana edukasi kaulinan urang lembur tambah Vena, sarana edukasi juga disediakan. Selain bertujuan menjaga kelestarian budaya urang Sunda, tanah seluas 4000 meter ini menjadi arena bermain dan berinteraksi untuk anak-anak.

“Selain mengenalkan permainan tradisional Sunda, ada filosofi tersendiri didalamnya. Menjadi wahana bermain, melatih motorik, mengatur strategi, menumbuhkan sportivitas, mengasah kecerdasan emosi juga membangun kerjasama menjadi tujuan tersendiri dari wisata edukasi ini, jadi jangan ragu mencobanya ya,” pesan Vena.

Sumber: Humas Kabupaten Bandung

BERLANGGANAN
BERITA LAINNYA
Bupati Bandung H. Dadang M. Naser mengingatkan para istri Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tergabung
Pada tahun 2001 Ronny Nopirman, seorang warga Kecamatan Baleendah, memiliki sebuah mobil tua merk Ci