Kabupaten Bandung Gelar 1st International Coffee Festival 2017

Senin, 16 Oktober 2017

Dinas Pertanian Kabupaten Bandung menyelenggarakan 1st International Coffee Festival 2017 pada tanggal 13 sampai 15 Oktober 2017 yang berpusat di Atrium Utama Festival City Link Bandung. Bupati Bandung H. Dadang M. Naser, SH., S.Ip., M.Ip., membuka secara resmi festival tersebut dengan memukul kendang didampingi Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Dr. H. Iwa Karniwa, SE.Ak., MM., CA., PIA., Dandim 0609 Letkol. Arh. Andre Wira K., S.Ap., M.Si., Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Ir. H. A. Tisna Umaran, MP., Pemilik Morning Glory Nathanael, dan peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Prof. Rony.

Dadang M. Naser dalam sambutannya mengatakan festival ini merupakan momen untuk memotivasi dan menjembatani petani kopi di Kabupaten Bandung agar berdaya saing.

“Daya saing harus dipertahankan, kualitas sudah kita dapatkan dengan predikat juara dunia beberapa waktu lalu di Atlanta Amerika Serikat dengan meraih predikat kopi termahal di dunia, sekarang saatnya bergerak dari kualitas ke kuantitas,” ungkap Bupati.

Dia mengatakan alasan utama mengapa kopi dari Kabupaten Bandung sering mendapat predikat juara di kancah Internasional karena geografisnya yang terletak di ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut, selain itu juga ikut mendukung pola kehutanan rakyat, ditanam di bawah tegakan, cahaya matahari yang masuk rata-rata kurang dari 40% sehingga kualitasnya berbeda dengan kopi yang ditanam di lahan terbuka.

“Kopi yang lindungan cahaya mataharinya paling bagus ada di Kecamatan Cilengkrang, hutannya dibiarkan rindang sehingga meminimalisir dampak curah hujan dan dengan kata lain tidak mengurangi jumlah produksi, daerah-daerah lainnya saya harap bisa mengikuti langkah ini agar kuantitas produksi semakin meningkat,” papar Bupati.

Di waktu bersamaan Dadang M. Naser juga meresmikan pelaksanaan Invitasi Coffee Master yang mana baru pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia.

“Ini merupakan ajang yang sangat bergengsi karena levelnya lebih tinggi dari Barrista, Saya atas nama Pemerintah Kabupaten Bandung merasa bangga karena ini baru pertama kali digelar di Indonesia, Saya harap Kabupaten Bandung menjadi pelopor dan terus menyelenggarakan Invitasi Coffee Master di tahun-tahun yang akan datang,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Ir. H. A. Tisna Umaran, MP., mengatakan Hari Kopi Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Oktober sudah empat kali diselenggarakan Pemkab Bandung yaitu pada tahun 2001, 2002, 2003 dan terakhir tahun 2017 ini.

Tahun ini peserta khususnya dari kelompok tani berjumlah sekitar 60 orang seluruhnya berasal dari Kabupaten Bandung dan didukung oleh beberapa sponsor.

“Selain stand-stand yang memamerkan jenis kopi Arabica khas Kabupaten Bandung, festival kali ini juga menyelenggarakan kegiatan simposium, sarasehan, workshop, dan Invitasi Coffee Master,” sebut Kadistan.

Invitasi Coffee Master ini diikuti 14 peserta dari kota-kota besar di Indonesia yang sudah eksis komunitas pecinta kopinya.

Sedangkan jenis kopi yang dipamerkan pada festival kali ini, lanjut Tisna, hanya satu jenis yaitu Arabica akan tetapi meski hanya satu jenis namun dengan berbagai cita rasa sesuai dengan karakteristik pegunungan dimana kopi tersebut ditanam.

“Walaupun jenisnya sama tapi kopi yang ditanam di Ibun, Wanoja, Malabar, Pangalengan, Gunung Puntang, dan yang lainnya itu memiliki ke-khas-an masing-masing baik dari struktur kopi, karakteristik tanah, ketinggian datarannya, cara pemeliharaan, cara panen dan prosesnya, termasuk perbedaan dalam cara roasting,” papar Tisna.

Dinas Pertanian sebagai salah satu stakeholder pemerintahan di Kabupaten Bandung terus berusaha dan berupaya untuk meningkatkan produksi, produktivitas dan kualitas produk serta meningkatkan nilai tambah, daya saing, posisi tawar dan kesejahteraan petani khususnya di sektor perkebunan.

“Festival ini diselenggarakan untuk memperkenalkan dan mempromosikan kopi Kabupaten Bandung kepada masyarakat luas di tingkat regional, nasional maupun internasional,” kata Tisna.

Perkebunan merupakan salah satu sektor andalan bagi perkembangan perekonomian di Indonesia.

Selain sebagai penyumbang devisa negara, sektor perkebunan juga berkontribusi sebagai penyedia lapangan kerja bagi masyarakat Indoonesia.

Kopi dan teh merupakan komoditas sosial, dalam arti usaha perkebunan tersebut hampir 95% diusahakan oleh perkebunan rakyat dengan melibatkan sekitar 2 juta KK.

“Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, kopi adalah komoditas non-migas yang menjadi penyumbang keempat terbesar devisa, setelah kelapa sawit, karet dan kakao,” lanjutnya.

Kopi juga turut memberikan kontribusi surplus perdagangan 823 juta dollar AS.

Ekspor kopi periode Januari – Agustus 2017 sebesar 335.027 ton, meningkat 50% dibandingkan periode yang sama tahun 2016 sebesar 212.514 ton.

Sementara impor kopi, terang Dia, pada periode yang sama tahun 2017 sebesar 8.776 ton (mengalami penurunan 63% dari tahun 2016).

“Festival ini menjadi sejarah perkopian di Indonesia dan diharapkan Kabupaten Bandung akan menjadi kiblatnya kopi di Indonesia, dan juga ke depan pemerintah bisa mengeluarkan sertifikat kelayakan dimana seorang barrista layak disebut barrista, begitu juga dengan Coffee Master,” tutupnya.

Invitasi Coffee Master akan berakhir pada Minggu malam (15/10) dan pemenang akan mendapatkan trofi bergilir Coffee Master Indonesia yang memiliki nilai seni tinggi karena dipahat oleh seniman kelas dunia.

Sedangkan untuk kegiatan simposium dan workshop menghadirkan narasumber diantaranya Kim Dai Ki dari Korea Selatan, Mr. Albaro dari Australia dan Ucu Sumirat dari Pusat Penelitian Kopi Kakao (Puslitkoka) Jember.

Press Release Kominfo Setda.

BERLANGGANAN
BERITA LAINNYA
Upaya pemerintah dalam penertiban pengelolaan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) terus dilakuka
Panglima Kodam III Siliwangi Doni Monardo, menyatakan keterbukaanya untuk bersama-sama turun membang