hamile porno hd porno sikiş porno zenci porno mobil porno gizli çekim porno sex filmleri brazzers zenci porno hd porno üniformalı porno zenci porno sex resim

Mengayuh Sepeda Antara Ujung Genteng dan Ombak Tujuh

Jumat, 27 November 2015

USAI melahap route wisata Pangalengan – Rancabuaya di ujung selatan Kabupaten Bandung dan Garut sebulan lalu, perjalanan para penggowes kali ini diarahkan ke wilayah selatan Kabupaten Sukabumi, tepatnya Pantai Pangumbahan Ujung Genteng Kecamatan Ciracap. Route ini sengaja dipilih, karena terbius oleh banyaknya pemberitaan di media massa yang mengupas habis tentang keindahan pantai tersebut.

Untuk menuju lokasi itu, peserta sebanyak 37 orang dari komunitas sepeda sabilulungan Kabupaten Bandung diangkut menggunakan bus dari Kota Soreang menuju Ujung Genteng. Lamanya perjalanan yang mencapai 9 jam, membuat sebagian peserta mengalami kelelahan.

Tepat pukul 1 dini hari, Sabtu (21/11) rombongan peserta tiba di sebuah penginapan sederhana di seputar Pantai Pangumbahan. Tanpa menunggu komando, mereka langsung masuk tempat peraduan untuk beristirahat agar bangun pagi badan segar kembali.

Dibantu seorang pemandu setempat, perjalanan para penggowes dari Pangumbahan menuju Pantai Ombak Tujuh sejauh ± 27 km pun dimulai. Jam baru menunjukkan pukul 07.20 pagi.

Cuaca begitu cerah dengan kondisi udara yang lumayan bersih, cukup memberikan semangat untuk memulai perjalanan pulang. Dalam perjalanan kali ini, kami sengaja menyewa seorang pemandu mengingat route yang akan ditempuh sama sekali belum dikenal.

Disamping jalur yang dihadapi hanya jalan setapak, merambah hamparan kebun kelapa dan hutan di sepanjang pantai. Tanpa pemandu setempat, kami khawatir rombongan bisa tersesat di tengah hutan.

Satu jam lepas dari start di Pangumbahan, para pesepeda tiba di Balai Penangkaran Penyu. Lumayan melelahkan, mengingat jalur jalan yang ditempuh berupa jalan kecil berpasir tebal. Bahkan ada beberapa peserta yang terpaksa memikul sepedanya, karena tidak kuat mengayuh di kedalaman pasir. "Sakali-kali sapedah numpakan jelema," selorohnya.

Kendati demikian melelahkan, perjalanan dari pangumbahan menuju Balai Penangkaran Penyu cukup terobati dengan keindahan panorama pantai di sepanjang jalan. Meski hari libur, wisatawan yang datang ke lokasi tersebut terbilang sedikit. Padahal fasilitas penginapan cukup tersedia, meskipun tergolong sederhana.

Sepinya pengunjung tampak pula di lokasi Balai Penangkaran Penyu. Tidak ada aktivitas para pegawai, maklum hari itu merupakan hari libur karyawan. Keinginan untuk melihat penangkaran anak-anak penyu, akhirnya batal. Sebagai gantinya, peserta harus puas berselfie ria dengan patung penyu yang ada di halaman balai.

Perjalanan kembali dilanjutkan, menuju etape kedua. Di etape ini, penggowes langsung berhadapan dengan jalan setapak yang cukup licin. Hamparan kebun kelapa yang begitu luas dengan jalan setapak yang bercabang, sedikit membingungkan peserta.

Sementara pemandu dengan sepeda motor tuanya sudah berlalu meninggalkan rombongan. Untungnya jalan yang dilalui masih menyisakan jejak sepeda motor, sehingga bisa menjadi panduan melanjutkan perjalanan.

Selepas 'jebakan' kebun kelapa, trek lain berupa turunan tajam telah menanti. Adrenalin mulai terpompa, saat melihat beberapa peserta yang jatuh karena tidak mampu mengendalikan sepedanya ketika melalui turunan tajam dan licin.

Regrouping di antara pesepeda kembali dilakukan, untuk memeriksa kondisi sepeda dan sedikit mengobati luka ringan yang dialami peserta setelah jatuh di perjalanan. Alhamdulillah, luka yang diderita sebagian peserta masih tergolong ringan, sehingga perjalanan bisa dilanjutkan. Jebakan kian menyulitkan, manakala peserta dihadapkan kepada sebuah sungai yang penuh bebatuan besar.

Dalam keadaan sungai yang masih kering karena kemarau, perjalanan hanya bisa ditempuh dengan cara menggotong sepeda. Cukup berat memang, karena bentangan sungai mencapai empat meter lebih.

Sambil melepas lelah, regrouping lagi-lagi dilakukan. Kesempatan ini digunakan peserta untuk mengeringkan sepatu setelah terendam air sungai. Sebagian peserta ada juga yang rajin mencongkel-congkel tanah yang menempel liat di gir sepeda.

Lokasi yang menjadi pos etape dua, merupakan sebuah lokasi hutan lindung yang jarang dilalui kendaraan. Bahkan di lokasi itu, masih terdapat kerbau liar yang sewaktu-waktu bisa menghalangi jalan para pesepeda. Kami berani menyebut kerbau liar, karena memang sengaja diliarkan tanpa seorang pun yang memelihara.

Setengah jam beristirahat, route perjalanan menuju etape terakhir Pantai Ombak Tujuh kembali dikayuh. Trek yang dilalui lumayan ringan, meski kerap terhalang oleh ranting pohon yang menghalangi pesepeda.

Efi Rofikin seorang peserta, sempat tergores wajahnya karena alpa memperhatikan jalur trek. Tepat pukul 10.45 WIB, seluruh peserta akhirnya tiba di Ombak Tujuh yang memiliki panorama pantai begitu indah.

Pasir nan putih, bersih, gelombang laut yang berkejar-kejaran menyambut kami dengan ramah. Namun sayang, keramahan ini tidak dilengkapi dengan tersedianya warung makanan untuk sedikit beristirahat.

Kami akhirnya memaklumi, mengingat Pantai Ombak Tujuh masih terbilang perawan. Pengunjung yang datang ke lokasi ini, bisa dihitung dengan jari. Pemerintah Kabupaten Sukabumi bekerjasama dengan Perhutani, hendaknya segera bergerak untuk menata lokasi tersebut. Sayang kalau terus dibiarkan.


(Asep Sahdiana – Anggota Komunitas Sepeda Sabilulungan Kabupaten Bandung)
BERLANGGANAN
BERITA LAINNYA
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bandung Tisna Umaran mengingatkan, aturan netralit
Masing masing terdiri dari 1 orang di Dinas Arsip dan Perpustakaan, 1 orang di Badan Kepegawaian dan