Pembuang Sampah di TPS Liar Bisa Dipidanakan Bupati ‘ Gerakan Jumsih Harus Dibudayakan’

Selasa, 06 Maret 2018

Berbagai pogram pemerintah telah digulirkan untuk menangani sampah, namun masih belum berhasil secara signifikan.

Bupati Bandung H.Dadang M.Naser,SH,S.Ip.,M.Si beberapa waktu lalu menggalakkan pojok edukasi bersih sampah, sebagai penataan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar yang tersebar.

Menurut Bupati, saat ini secara teknis Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung telah menyediakan pojok edukasi bersih sampah di seluruh wilayah, khususnya pasar.

"Pojok Edukasi bersih sampah kita galakkan sebagai penataan satu titik dari TPS liar yang tersebar, kalau masih sulit untuk buang sampah pada tempatnya, akan dipidanakan sesuai dengan aturan, karena dampaknya menyebabkan bencana alam," kata Bupati saat dikonfirmasi, Sabtu (3/3/2018).

Lebih lanjut Dia mengungkapkan selain penyediaan kontainer sampah, ada juga petugas yang melakukan sosialisasi untuk masyarakat, terkait pengelolaan sampah sehingga masyarakatpun sadar bahwa mereka juga bertanggung jawab, dari mulai mengatur sampah liar, sampai pengelolaan sampah yang dihasilkan.

"Akan disediakan kontainer sampah, juga petugas yang memberi edukasi melalui sosialisasi, teguran dan ajakan bahwa sampah tanggung jawab semua. Termasuk salah satu prioritas dana desa untuk menyediakan TPS yang meumpuni untuk menampung sampah rumah tangga warganya" tandas Bupati Bandung.

Jika sarana sudah tersedia, Bupati mengajak masyarakat untuk kembali menggerakan Jumat bersih (Jumsih) sampah, sebagai budaya menjaga lingkungan.

Jika semua orang memiliki kesadaran peduli kebersihan, khususya sungai.

Kita harapan sedikit demi sedikit penyebab bencana ini bisa teratasi.

“Mohon kesadaran bersama, warga sudah melakukan bersih-bersih, tapi besoknya warga lain dari luar membuang sampah lagi di TPS liar, apalagi kalau sampahnya banyak. Warga sekitar bisa menindak langsung dengan teguran dan peringatan,” pesan Bupati.

Menambahkan hal itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Asep Kusumah menjelaskan, sebetulnya setiap pasar memiliki TPS namun beban sampah pasar terlalu besar dan kata Dia tidak sedikit pula masyarakat luarpun membuang sampah rumah tangganya ke TPS pasar.

Asep berharap Pojok edukasi bersih sampah agar didukung oleh kesadaran masyarakat sehingga terjadi perubahan paradigma.

"Harus ada dukungan berupa kesadaran masyarakat sendiri, untuk merubah paradigma, bahwa sampah itu dikumpul, diangkut dan dibuang. Masyarakat bisa menjadi solusi," pungkas Asep.

Dia menuturkan, tidak ada TPA yang mampu menampung sampah saat ini. Setiap orang kata Dia, bisa menghasilkan 2 liter sampah perhari.

"Bupati sudah menggulirkan pengelolaan sampah berbasis Rumah Tangga (RT). Setiap RT wajib memiliki lubang cerdas organik sebagai solusi sampah organik," imbuhnya.

Masih menurut Asep, berdasarkan kajian, masyarakat Kabupaten Bandung menghasilkan 45 sampai 65 persen sampah organik lanjutnya, jika masyarakat bisa menyediakan lubang biopori dengan diameter 10 cm dan kedalaman sekitar 1 meter, masalah sampah organik bisa teratasi.

"Ilustrasinya jika lubang cerdas organik iu bisa diterapkan, tentu 45 persen soal sampah organik bisa teratasi.Sedangkan sampah anorganiknya dipilah untuk ditampung di bank sampah, dan akan lebih efektif " tandas Asep.

Saat ini lanjutnya, tercatat ada 130 titik TPS resmi, dengan volume tampung 1.440 ton/ hari. Sedangkan TPS liar ada di 150 titik. Untuk penanganan angkut sampah kata Asep, Unit Reaksi Cepat (URC) tersedia 3 tronton, 2 konvektor, 1 beckhoe, 2 loader, 3 truk amrol dan 1 dumptruck.

Asep mengajak masyarakat Kabupaten Bandung untuk menjadi sumber solusi, bukan hanya penghasil sampah saja.

"Masyarakat bisa menjadi sumber solusi karena sesuai amanat UU nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, Setiap orang wajib mengurangi dan menangani sampahnya secara berwawasan lingkungan' dan yang paling penting bagaimana RT bisa bertanggungjawab atas sampah yang dihasilkan," tutupnya.

Gerakan Jumsih Gerakan Jumsih, salah satunya sudah dilakukan jajaran Muspika dan Kecamatan Soreang.

Jumat lalu, pembersihan sampah yang tercecer sepanjang 30 meter di ruas jalan terusan Al-Fathu Soreang-Ciwidey dituntaskan.

Camat Soreang Rusli Baijuri memimpin aksi tersebut bersama Danramil Soreang Tri Harbusania dan tim Unit Reaksi Cepat (URC) Kebersihan DLH serta masyarakat.

Menurut keterangan Camat Soreang, sampah yang hamper menutup setengah badan jalan itu tidak hanya sampah rumah tangga, tetapi banyak juga ditemukan sampah industry konveksi, yakni potongan kain.

Dia mengaju, ajakan pada masyarakat Kabupaten Bandung tidak membuang sampah ke aliran sungai dan bahu jalan nampaknya masih sulit.

“Saat ini kita di setiap lini harus melakukan gerakan nyata bebersih sampah, karena berbagai program belum berhasil dengan maksimal. Kita bersihkan hari ini, nyatanya keesokan hari di lokasi ini bertumpuk lagi,” imbuh Rusli.

Meski Muspika telah memasang peringatan untuk tidak membuang sampah sembarangan ke aliran sungai dan bahu jalan, namun imbauan tersebut seolah tidak pernah diindahkan oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Setiap ada kesempatan, kami sering mengimbau aparat pemerintah desa dan seluruh masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan baik ke bahu jalan maupun ke aliran sungai. Dengan membudayakan Jumsih dan kesadaran warga untuk tidak membuang sampah di TPS liar, kita dukung Kabupaten Bandung menjadi bersih sampah.

Press Release Kominfo Setda.

BERLANGGANAN
BERITA LAINNYA
Dinas Industri dan Perdagangan Jabar, Dinas Perdagangan dan Industri (Disperin) Kabupaten Bandung d
Sedikitnya 21 Perusahaan penghasil limbah di Kabupaten Bandung, sudah menerima sanksi administ