SAPA Institut Peroleh Penghargaan Dari Bupati Bandung

Sabtu, 22 Desember 2012

Koordinator SAPA Institut, Sri Mulyati S.Sos memperoleh penghargaan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung sebagai penggerak/pendampingan korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Trafficking di wilayah Kabupaten Bandung. Selain SAPA Institut, Pemkab Bandung juga memberikan penghargaan kepada Endang Yuli Purwati dari Yayasan Darul Hanim Kecamatan Margahayu karena telah berhasil menjadi Motivator Bidang Kesejahteraan Sosial.

Penghargaan tersebut diserahkan secara langsung oleh Bupati Bandung H.Dadang Mochamad Naser SH, S.Ip disela-sela Upacara Peringatan Hari Ibu ke-84 dan Hari Kesetiakawanan Nasional (HKSN) Tingkat Kabupaten Bandung Tahun 2012, di Lapangan Upakarti Komplek Pemkab Bandung Soreang, Jum'at (21/12).

Pada saat bersamaan Bupati Bandung pun menyerahkan piagam penghargaan berupa Anugrah Budaya kepada Seni Pedalangan Asep Sunandar Sunarya, kemudian tokoh Kaulinan Urang Lembur, Mochamad Zaini Alif, tokoh Seni Reog, Amin Miharja serta tokoh di bidang Sastra, Rosyid E.Abby. "Seluruh penghargaan ini merupakan bentuk perhatian dan kepedulian kami selaku pemerintah daerah kepada mereka, karena telah ikut berpartisipasi mendukung kemajuan pembangunan di Kabupaten Bandung",ucap Dadang Naser.

Pada peringatan itu tampak hadir Sekretaris Daerah Kabupaten Bandung, Ir.H.Sofian Nataprawira, MP, Ketua TP PKK Kabupaten Bandung Hj.Kurnia Agustina Dadang M.Naser, Wakil Ketua TP PKK Kab.Bandung Hj.Sri Deden Rumaji, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kab.Bandung, Hj.Windar Sofian, Kepala Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPP) Kab.Bandung drg.Grace Mediana, M.Kes, unsur jajaran Muspida serta seluruh pimpinan OPD Kab.Bandung.

Menurut Sri Mulyati, SAPA Institut berawal dari kumpulan mahasiswa yang aktiv di Organisasi Extra Kampus IAIN Sunan Gunung Jati Bandung. "Awalnya kita mendirikan sebuah Lembaga Kajian Perempuan karena kita melihat begitu banyaknya persoalan perempuan yang tidak bisa diatasi hanya melalui kajian, seminar atau diskusi saja. Namun lebih pada butuh tindakan nyata yang perlu dilakukan bersama-sama masyarakat",terang Sri Yuliati.

Akhirnya pada tahun 2007, lanjut Sri, Ia dan rekan-rekannya mulai mengorganisir perempuan di pedesaan di wilayah Kabupaten Bandung dalam suatu wadah bernama Bale Istri. Dari Bale Istri ini kita bisa lebih banyak melihat persoalan perempuan mulai dari KDRT yang sangat tinggi, Kematian Ibu dan Bayi, persoalan pendidikan perempuan yang masih rendah, tenaga kerja wanita yang banyak jadi korban kekerasan dan trafficking. "Melihat persoalan perempuan yang sangat kompleks tersebut, kami berharap melalui Bale istri ini bisa membantu menanganinya dengan pelatihan-pelatihan tentang bagaimana cara menghadapi dan mengatasi seandainya terjadi KDRT atau trafficking", harapnya pula.

Ia mengakui Bale Istri baru berdiri di 6 Kecamatan saja diantaranya Kecamatan Majalaya, Ciparay, Pacet, Pangalengan, Paseh dan Arjasari. "Insyaalloh ke depan kami akan mengupayakan SAPA Institut bisa menyebar di seluruh wilayah Kabupaten Bandung", tandasnya pula.


Sumber : Humas Setda Kabupaten Bandung


BERLANGGANAN
BERITA LAINNYA
“Sudah saatnya pemberdayaan koperasi digalakkan, kesempatan ini harus dimanfaatkan sebagai pel
Kecamatan Margahayu, yang mewakili Kabupaten Bandung pada Penilaian Sinergitas Kinerja Kecamatan tin