Selasar GBS, Pusat Aktivitas Budaya Sunda

Senin, 25 Maret 2019

Budaya Sunda merupakan salah satu budaya tertua di Nusantara. Akan tetapi seiring berkembangnya zaman dan derasnya terpaan budaya moderen, budaya khususnya kesenian sunda mulai memudar.

Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung terus berupaya untuk melestarikan budaya sunda, salah-satunya dengan menjadikan selasar Gedong Budaya Sabilulungan (GBS) yang berlokasi diseputar jalan Al-Fathu Soreang sebagai pusat aktivitas kebudayaan dan kesenian di Kabupaten Bandung.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kabupaten Bandung Drs. H. Agus Firman, M.MPd mengakui, di era sekarang agak sulit untuk melihat sebuh pagelaran seni. Kabupaten Bandung sendiri sebenarnya kaya akan lingkung seni, sanggar, padepokan seni dan paguron silat.

“Oleh karena itu kami jadikan selasar GBS ini sebagai tempat para seniman untuk beraktivitas sekaligus menjadi hiburan gratis bagi masyarakat,” jelas Agus saat ditemui di ruangannya, Rabu (20/03/2019).

Selain menjadikan hiburan, lanjut Kadisparbud, hal tersebut juga sebagai strategi memperkenalkan kebudayaan dan kesenian sunda kepada kaum milenial.

“Melalui kegiatan ini kami berharap generasi muda dapat tertarik dengan kebudayaan daerah asalnya. Jadi mereka dapat menggunakan waktunya dengan kegiatan positif, sekaligus ikut melestarikan kebudayaan sunda,” ungkapnya pula.

Dengan mengusung tema Sauyunan Satujuan, kadisparbud mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menjaga serta melestarikan budaya sunda di Kabupaten Bandung.

“Sauyunan itu memiliki arti akur, kompak, gotong royong dan bekerja bersama-sama tanpa masalah. Sementara satujuan adalah ngamumule, satu maksud, merawat dan menjaga. Hal ini selaras dengan moto Pemkab Bandung yakni sabilulungan. Melalui kegiatan ini, saya berharap seluruh stakeholder dapat bersinergi dalam melestarikan dan mengembangkan budaya sunda sebagai kearifan lokal,” terang Agus.

Sementara Kepala Bidang (Kabid) Budaya Disparbud Kabupaten Bandung Dr. H. Aten Sonadi, S.Sos, M.Si memaparkan, dua bulan terakhir pihaknya telah menjadikan GBS sebagai tempat pelestarian budaya.

“Hal ini bermula dari banyaknya masyarakat yang beraktivitas setiap akhir pekan di kawasan GBS. Melihat potensi tersebut kami menjadikan selasar GBS sebagai tempat pelestarian budaya, dengan memberikan kesempatan kepada teman-teman komunitas kesenian untuk berlatih di selasar GBS,” papar Aten.

Dirinya menambahkan, selama dua bulan terakhir antusias pengunjung atau komunitas yang datang ke selasar ini cukup meningkat. Menyikapi hal tersebut, pihaknya akan melakukan beberapa inovasi untuk lebih menarik masyarakat berkunjung ke kawasan GBS.

“Alhamdulillah, sudah banyak komunitas yang mendaftar untuk berlatih di selasar GBS. Respon positif ini memotivasi kami untuk lebih kreatif dalam menciptakan inovasi, salah-satunya Teras Sabilulungan. Meskipun ini baru konsep, tapi kami berharap bisa terlaksana dan ikut melestarikan budaya sunda,” pungkas Aten.


Sumber : Humas Pemkab Bandung

BERLANGGANAN
BERITA LAINNYA
Bupati Bandung H. Dadang M. Naser mengingatkan para istri Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tergabung
Pada tahun 2001 Ronny Nopirman, seorang warga Kecamatan Baleendah, memiliki sebuah mobil tua merk Ci