Serba Gadget, Muslimah Jangan Ketinggalan

Rabu, 07 Februari 2018

Perkembangan teknologi yang begitu pesat membuat tantangan yang dihadapi orangtua, terutama para ibu, dalam mendidik anak-anaknya pun meningkat.

Di era serba digital dan serba menggunakan gadget, orangtua dituntut tidak ketinggalan zaman.

Mereka harus selangkah lebih maju ketimbang anak-anak sehingga mampu mengarahkan dan membimbing.

Majelis taklim, akan menjadi wadah, mendorong peran muslimah yakni seorang ibu akan sangat mempengaruhi masa depan bangsa.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Bandung Hj. Kurnia Agustina Dadang Naser saat menjadi pembicara dalam Seminar Majelis Taklim Rahmatul Ummah, dengan tema Peran Sentral Muslimah Dalam Keluarga di Era Digital, yang diinisiasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bandung di Gedung Ormas Soreang, Selasa (6/2/2018).

“Zaman sekarang serba gadget (gawai), semua informasi bisa cepat diakses. Para muslimah yang bergelar ibu jangan mau kalah. Kita harus selangkah lebih maju untuk membentengi anak-anak kita dari berbagai damapak negative dari gadget,” ungkap Teh Nia sapaan akrabnya itu.

Perkembangan teknologi informasi telah mengubah pola komunikasi di dalam keluarga, lanjutnya, terlebih lagi pada anak anak generasi milenial sekarang.

Mereka hidup dan tumbuh dengan dunia digital. Kondisi ini menjadi tantangan sendiri sehingga pola asuh dan bimbing tidak bisa seperti era-era sebelumnya.

“Banyak sekali gawai yang kita pakai setia waktu, ada Handphone, laptop, tab dan lainnya. Hal ini harus ada peran orangtua, terutama kaum ibu, yang sangat signifikan dalam mempersiapkan masa depan generasi penerus bangsa. Jangan sampai dalam satu generasi, pola didik oleh orangtua diambil alih gawai atau gadget,” imbuhnya.

Nilai-nilai moral bukan dari teladan dan petuah orangtua. melainkan dari gelontoran informasi luar rumah yang tanpa batas.

Lanjut Teh Nia. Menurutnya saat ini banyak pelaporan-pelaporan kekerasan yang terjadi, disebabkan oleh perkenalan di dunia maya (facebook).

“Dari bertukar pesan, janjian lalu ketemuan. Jadi bijaksanalah menggunakan gadget,” kata Dia.

Teh Nia mencontohkan, dari gadget, tidak sedikit situs-situs porno, games kekerasan dan perkelahian juga banyak sekali situs berbahaya lainya.

Maka tambahnya, para orang tua harus memberi arahan dan pengawasan.

“Karena Keberadaan digital ini bagai dua sisi mata uang, di tangan orang yang tidak bertanggung jawab, digunakan untuk memangsa atau tempat pedofil mencari mangsa. Jika anak bapak ibu menarik, lucu jangan dipasang status karena itu akan memancing jaringan para pedofil yang sudah internasional, sangat berbahaya,” tandasnya.

Berita baiknya, kata ibu yang juga sebagai Istri Bupati Bandung itu, jika gadget atau sarana telekomunikasi ini digunakan untuk kebaikan, ibu-ibu bisa menggunakannya sebagai ladang dakwah, syiar, mendidik anak dengan cara Rasulullah SAW, kajian-kajian bisa dimasukan ke media sosial.

“Kita bisa mendampingi anak kita yang sedang berselancar atau sedang belajar bahasa, kita bisa bertanya kepada anak sehingga bisa mencari di gadgetnya, artinya kita mengarahkan jangan melepas, dengan batas waktu sehari tidak boleh lebih dari 6 jam,” terangnya.

Senada dengan Teh Nia, Ketua MUI K.H. Yayan Hasuna Hudaya, M.Mpd berpendapat, Gawai seperti pedang bermata dua.

Ada manfaat luar biasa yang bisa diperoleh terutama dari sisi kecepatan dan mudahnya mendapatkan informasi dan hiburan.

Sebaliknya, mata pedang di sisi yang lain adalah ekses yang dapat meracuni.

Namun melihat tren begitu panjang waktu penggunaannya, kita bisa berkesimpulan bahwa mudaratnya lebih besar ketimbang manfaat.

Menurut Yayan, Pentingnya diadakannya seminar “Peran Sentral Muslimah Dalam Keluarga di Era Digital”, karena wanita adalah salah satu hamba Allah yang dititipkan Rasulullah SAW, karena wanita merupakan tiang Negara, hal yang mudah untuk menghancurkan sebuah peradaban, yakni dengan cara menghancurkan wanitanya.

“Dengan adanya seminar ini diharapkan wanita akan lebih kreatif dan inovatif, dapat memperkuat ahlak, perilaku dan sikap agar mereka bisa menjadi wanita yang shalihah dan memberikan contoh yang baik untuk para wanita lainnya, khususnya tauladan terhadap keturunannya,” pungkas Yayan.

Press Release Kominfo Setda.

BERLANGGANAN
BERITA LAINNYA
Rapat Koordinasi Pemerintah Daerah ( Rakor Pemda) yang digelar setiap tahun oleh Pemkab Bandung kali
Sebanyak 168.246 Kelompok Penerima Manfaat (KPM) se Kabupaten Bandung menerima Bantuan Pangan Non Tu